Polemik
Waktu itu jalanan tampak lengang, seakan-akan kota sedang menyembunyikan rahasianya sendiri. Lampu merah menyala dengan hitungan yang perlahan mundur, sementara aku duduk termenung memandangi punggung seseorang yang bahkan belum kusadari akan menjadi bagian dari kekacauan batinku di kemudian hari.
Sejarah pelik itu mulai terukir, bukan melalui deklarasi besar, bukan juga melalui romansa yang demonstratif, tetapi dari sesuatu yang jauh lebih samar, yaitu rasa kepedulian. Tragisnya, perhatian sederhana sering kali menjadi bentuk ketertarikan hati paling destruktif bagi seseorang yang terlalu lama hidup dalam keterasingan emosional.
“Kak, janji ya kamu tetap di sini dan gak akan pergi ataupun pulang,” pinta seorang anak manusia dengan santai dan tersenyum, seraya menyodorkan jari kelingkingnya untuk mengikat sebuah janji usai mengambil swafoto di tepi jalan dan di tengah malam yang terasa ganjil.
Sesaat kemudian, dia mengenakan helm yang sedikit kebesaran di kepalaku dengan ekspresi ringan, seolah dunia tidak pernah sekejam itu untuk melukai siapapun. Rasanya sangatlah aneh, untuk pertama kalinya aku diperlakukan dengan kelembutan yang bahkan asing bagi duniaku sendiri.
Setelah belasan tahun mengarungi kerasnya dinamika kehidupan seorang diri, tindakan kecil itu justru menghadirkan guncangan yang jauh lebih besar dibanding seluruh kerumitan pemikiran yang selama ini bersemayam di kepalaku. Ada semacam reaksi kimia di otak, sebuah impuls yang mengirimkan sinyal bahwa kedekatan semacam ini seharusnya tidak terjadi.
Polemik
Aku menyukainya sebagaimana dia menemukan adiksi pada kopi. Mulanya hanya ingin mengenal aromanya yang menenangkan, namun perlahan tenggelam pada getir yang tidak lagi mampu diterjemahkan oleh nalar, seolah perasaan memiliki semestanya sendiri, yang berdiri di luar jangkauan akal dan kausalitas manusia, sebuah rasa yang tumbuh di antara batas-batas yang tidak semestinya dilampaui, tetapi justru semakin hidup setiap kali berusaha disangkal.
Sebelumnya aku beranggapan bahwa dia hanyalah salah satu manusia yang datang untuk singgah sesaat, sebagaimana kebanyakan orang yang pernah melintasi hidupku. Namun tanpa kusadari, laki-laki yang berbeda generasi denganku tersebut perlahan mengubah banyak hal dalam diriku melalui sudut pandang dan tindakannya. Kini dia menetap pada setiap jengkal dinding hati tanpa kepemilikan.
Wajahnya yang teduh, perangainya yang bijak dan santun, serta ketajaman cara berpikirnya yang tidak jarang membuatku merasa sedang berdialog dengan seseorang yang memahami kehidupan jauh melampaui usianya. Sungguh aku bersaksi, dia adalah manusia cerdas yang memperlakukan sesamanya dengan sangat baik secara tulus dan konsisten.
Sejak saat itu aku mulai merasa takut. Takut apabila rasa ini tumbuh terlalu dalam di wilayah yang tidak semestinya. Takut karena norma berdiri terlalu kokoh untuk dinegosiasikan, sementara kenyataan sosial memiliki hukum-hukumnya sendiri, yang kerap kali tidak menerima hubungan semacam ini.
Pelan-pelan aku mulai menghafal banyak hal tentangnya, seolah ingatanku bekerja lebih tekun daripada logikaku sendiri. Aku mengingat bagaimana senyuman itu merekah perlahan ketika dia menunjukkan sebuah inisial nama. Aku mengingat bagaimana matanya berbinar sesaat ketika mengetahui bahwa aku menyukai scent yang dia gunakan. Aku juga mengingat bagaimana dia tersenyum lebar sembari melahap street food, dengan ekspresi sederhana yang entah mengapa terasa begitu menyenangkan untuk dipandang.
Kini aku memahami bahwa hidup harus terus bergerak, walaupun ada perasaan yang belum sempat menemukan jalan dan penyelesaiannya. Di kehidupan ini, ada jenis cinta yang terlahir di tengah situasi yang rumit, lalu dipaksa bertahan sebagai perasaan yang hanya dapat dipelihara dalam diam.
Akhirnya manusia penggemar kopi itu telah menemukan rumahnya, seseorang yang dapat berjalan bersamanya tanpa perlu dibatasi oleh norma, usia, maupun kompleksitas keadaan. Seseorang yang mampu memberinya validitas, ketenangan, kepastian, serta kehidupan yang lebih masuk akal dan diterima dunia. Aku turut bahagia. Semoga musim semi itu tidak akan pernah berakhir. Semoga musim semi itu tidak mengenal akhir dan tinggal lebih lama daripada yang diizinkan waktu.
