Close Menu
tisitwas.comtisitwas.com
  • Home
  • Breakups
  • Conflicts
  • Dating Tips
  • Marriage
  • Romance
  • Self-Love
  • Toxic Signs

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Merelakan Diri yang Lama, Ketika Kamu Berubah Menjadi Sosok yang Belum Kamu Kenali

July 23, 2026

Anger and How to Release It

July 23, 2026

The Most Dangerous Men Are Not the Ones Who Leave — They’re the Ones Who Stay Confused

July 23, 2026
Facebook X (Twitter) Instagram
Facebook X (Twitter) Instagram
tisitwas.comtisitwas.com
  • Home
  • Breakups
  • Conflicts
  • Dating Tips
  • Marriage
  • Romance
  • Self-Love
  • Toxic Signs
tisitwas.comtisitwas.com
Home»Self-Love»Merelakan Diri yang Lama, Ketika Kamu Berubah Menjadi Sosok yang Belum Kamu Kenali
Self-Love

Merelakan Diri yang Lama, Ketika Kamu Berubah Menjadi Sosok yang Belum Kamu Kenali

kirklandc008@gmail.comBy kirklandc008@gmail.comJuly 23, 2026No Comments4 Mins Read
Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp Email
Merelakan Diri yang Lama, Ketika Kamu Berubah Menjadi Sosok yang Belum Kamu Kenali
Share
Facebook Twitter LinkedIn WhatsApp Pinterest Email

Poetry

Press enter or click to view image in full size

Kita akan bertemu di fase dimana kita akan berhenti mengenali diri kita sendiri.

Apakah kita kehilangan arah? Jawabannya akan sangat beragam sekali. Tapi satu kemungkinan, belum tentu kita kehilangan arah. Kita hanya berubah secara perlahan. Perubahan itu bisa jadi lewat cara kita berpikir, mencintai, dan cara kita memandang dunia. Bahkan bisa jadi hal yang dulu membuat kita bahagia perlahan hilang makna.

Mungkin, seni terbesar dalam bertumbuh tidak hanya menemukan diri kita yang baru, tetapi juga merelakan siapa diri kita yang lama.

Ketika Diri Perlahan Mulai Berubah

Benarkah kita melihat diri kita sesuai dengan apa yang kita kira? Tentunya cara pandang kita dengan orang lain berbeda. Begitu juga cara memandang diri kita sendiri. Kita sering sekali merasa seperti selalu merasa bersalah atas apa yang kita alami. Seolah kita tidak memahami dirinya sendiri. Dimana letak salah? Aku kira kita butuh duduk sejenak, memahami diri kita yang berbelit ini.

Kali ini mari sedikit kita bahas, konsep diri atau self concept yang biasa dipahami sebagai citra diri kita. Bagaimana kita memandang diri kita “aku teman yang asik” atau “aku anak yang penurut” ini adalah contoh dari konsep diri. Tentunya konsep diri ini dipengaruhi oleh interaksi orang sekitar kita. lalu dari sinilah terbentuk cara pandang terhadap diri kita baik itu secara karakter, kemampuan, dan juga karakter yang unik.

Dalam pendekatan Carl Rogers, manusia memiliki pandangan selaras antara pengalaman hidup dan juga gambaran dirinya. Lalu, bagaimana jika antara kedua hal tersebut tidak lagi selaras? Tentunya hal itu pasti terjadi, gambaran diri yang kita bentuk tidak akan selalu selaras dengan pengalaman yang kita alami. Awalnya kita melihat diri kita “orang yang disiplin, pekerja keras, atau aku berusaha sangat keras agar aku sukses” tapi kenyataannya pengalaman yang kita alami berkata lain. Ini disebut dengan incoungruence.

Berduka Akan Diri yang Pernah Ada

Dahulu kita melihat diri kita yang jelas, sebelum lulus kuliah kita seorang mahasiswa yang mengikuti pembelajaran yang sudah diatur oleh kampus. Kita mengikuti dengan baik. Setelah lulus kuliah kita perlahan kehilangan diri kita, dunia kerja tidak sama dengan sekolah atau bahkan kuliah. Oh tidak, sebelum kita masuk ke sana, kita sudah pernah mengalami ini juga di bangku kuliah. Untuk jenjang kuliah dan sekolah saja jauh berbeda, di kampus kita dituntut lebih mandiri dan cekatan. Tanpa sadar kita sering sekali melewati fase hidup yang berbeda setiap saat.

Perubahan ini kita jalani tanpa panduan yang tepat dan sering kali hilang arah. Pada saat ini kita mengalami perubahan pandangan terhadap diri kita sendiri. Ada yang tetap bisa mempertahankan dirinya sebagaimana awalnya lalu, ada juga yang kehilangan dirinya dan tidak tahu harus meminta bantuan kemana. Pergeseran inilah yang sering menjadi konflik dirinya sendiri.

Perlu kita pahami bahwa setiap fase kehidupan kita selalu dibentuk menjadi individu yang baru, kebiasaan baru, dan pengalaman baru. Kita meninggalkan versi lama kita setiap saat. Mau tidak mau, kita terus berjalan. Terkadang kita sering teringat malam dimana kita merindukan masa sekolah kita. Bisa jadi bukan hanya kenangan yang kita rindukan, bisa jadi versi diri kita yang hidup dengan bahagia dengan beban yang lebih ringan. Tapi apakah kita bisa hidup hanya dengan nostalgia?

Bukankah kita harus terus berjalan?

Belajar Mencintai diri yang Sedang Bertumbuh

Mungkin menerima diri sendiri di perjalanan panjang menuju gambaran diri yang kita impikan akan terasa melelahkan. Disini kita diminta untuk memahami diri kita sendiri. Tiada sesiapa yang bisa membantu kita untuk memahami diri kita sendiri. Sulit memang, tapi kita harus yakin bahwa kita bisa melewatinya dengan baik. Tidak sedikit yang mengalami kelelahan dan ketakutan akan gambaran dirinya di masa depan yang terasa jauh dan tidak mungkin. Tidak salah, tapi bukan berarti tidak mungkin.

Kita juga tidak boleh hanya fokus berusaha lebih keras. Kita juga harus paham dari mana kita memulai, kapan kita berusaha keras, dan kapan kita harus beristirahat. Karena istirahat sejenak bukan langkah mundur, tetapi untuk melihat apa saja yang sudah kita lewati. Saat ini ketika kita merasa tidak berguna. Coba lihat sejenak sudah sampai dimana kita melangkah, seorang anak kecil yang berjalan seorang diri untuk meraih mimpinya.

Proses inilah yang sering kita lupakan, dimana belum ada hasil dan belum ada apapun yang bisa terlihat. Merayakan perjalanan ini bukan hanya memberikan hadiah untuk diri sendiri, langkah paling nyata adalah jatuh cinta pada setiap langkah yang penuh badai dan luka. Sudah sekuat apa kita berjalan, itulah yang paling penting. Tidak apa jika malam ini kamu hanya ingin tidur, dan melupakan semua target yang kamu pasang, karena kamu berhak untuk beristirahat sejenak.

Menurutmu, kapan terakhir kali kamu merasa benar-benar menerima dirimu, bukan karena pencapaianmu, tetapi sesederhana karena keberadaan dirimu sendiri?

belum Berubah diri kamu Kenali Ketika Lama Menjadi Merelakan Sosok yang
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp Email
kirklandc008@gmail.com
  • Website

Related Posts

Anger and How to Release It

July 23, 2026

one step at a time‚ at our own pace

July 23, 2026

Learning to Give Myself Credit

July 22, 2026

Only Selfish Women Can Afford To Opt Out Of Bitterness

July 22, 2026

Why It’s So Hard to Just Rest and Why We Need to Do It

July 22, 2026

Nobody Talks About The Grief Behind Ambition

July 22, 2026
Add A Comment
Leave A Reply Cancel Reply

Don't Miss

Merelakan Diri yang Lama, Ketika Kamu Berubah Menjadi Sosok yang Belum Kamu Kenali

By kirklandc008@gmail.comJuly 23, 2026

Press enter or click to view image in full sizeKita akan bertemu di fase dimana…

Anger and How to Release It

July 23, 2026

The Most Dangerous Men Are Not the Ones Who Leave — They’re the Ones Who Stay Confused

July 23, 2026

one step at a time‚ at our own pace

July 23, 2026
Stay In Touch
  • Facebook
  • Twitter
  • Pinterest
  • Instagram
  • YouTube
  • Vimeo
Our Picks

Merelakan Diri yang Lama, Ketika Kamu Berubah Menjadi Sosok yang Belum Kamu Kenali

July 23, 2026

Anger and How to Release It

July 23, 2026

The Most Dangerous Men Are Not the Ones Who Leave — They’re the Ones Who Stay Confused

July 23, 2026

one step at a time‚ at our own pace

July 23, 2026

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

About Us

Welcome to tisitwas, your trusted space for honest, heartfelt, and empowering relationship advice. Whether you're healing from a breakup, dealing with arguments, or searching for the one, we're here to walk with you every step of the way.

Our Picks

Merelakan Diri yang Lama, Ketika Kamu Berubah Menjadi Sosok yang Belum Kamu Kenali

July 23, 2026

Anger and How to Release It

July 23, 2026
Recent Posts
  • Merelakan Diri yang Lama, Ketika Kamu Berubah Menjadi Sosok yang Belum Kamu Kenali
  • Anger and How to Release It
  • The Most Dangerous Men Are Not the Ones Who Leave — They’re the Ones Who Stay Confused
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
  • About Us
  • Get In Touch
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Terms and Conditions
© 2026 [Websie]. Designed by Pro.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.