Terkadang aku gentar pada kefanaan. Aku takut ditinggalkan; takut menjadi nama yang perlahan luruh dari ingatan, takut menjelma kecewa di mata mereka yang kusayangi. Namun di antara segala yang kutakuti, kehilangan diriku sendiri tak pernah terlintas sebagai kemungkinan.
Sebab ia tidak datang sebagai petir yang siap membelah langit, melainkan sebagai lumut yang diam-diam menyalut batu: nyaris tak terlihat, tetapi tekun mengikis bentuk asalnya.
Sedikit demi sedikit, kubiarkan harapan-harapan manusia berakar di dalam diriku. Kukuliti kehendakku sendiri, lalu kupakaikan hasrat mereka sebagai epidermisku. Lambat laun aku tak lagi berdiam di tubuhku sendiri; aku hanya menjadi ruang tempat ekspektasi orang lain bersemayam.
Barangkali sejak saat itu, namaku masih terucap, tetapi aku tak lagi menjadi alamatnya.
Batinku menjelma palimpsest; setiap kehendak yang lahir dariku ditimpa oleh kehendak yang lain, berulang kali, hingga tak tersisa aksara yang dapat kubaca sebagai milikku sendiri. Ketika kutanya siapa aku, yang menjawab hanyalah gaung—dan gaung tak pernah memiliki wajah.
Lalu aku mulai mengembara.
Kupungut serpihan-serpihan bahagia dari tempat yang tak pernah menetap. Kukejar euforia yang lekas luruh. Kutadah afeksi dari tangan yang silih berganti. Kukumpulkan pengakuan demi pengakuan, seolah ada satu di antaranya yang mampu menambal rongga yang terus menganga di dalam diriku.
Namun kekosongan rupanya memiliki tabiatnya sendiri. Ia tak pernah kenyang. Ia melahap apa pun yang kuberikan, lalu memintaku mencari lagi. Dan lagi. Sampai aku tak lagi mengejar kebahagiaan, melainkan sekadar mengejar sesuatu—apa pun itu—agar aku tidak perlu berhadapan dengan hampa yang memantulkan wajahku sendiri.
Kini, jika seseorang bertanya siapa aku, barangkali aku hanya akan terdiam. Sebab namaku masih melekat pada tubuh ini, tetapi jiwaku entah telah bersemayam di mana.
