Tidak terasa ternyata kurang lebih sudah satu tahun sejak kau memulai kehidupan sebagai seorang pekerja. Entah apa yang membakar kalori dalam tubuhmu dan mejadikannya bahan bakar untuk terus bergerak dalam rutinitas konstan. Bertahan, berjuang melawan kesabaran, mengakar dalam kilat-kilat kejenuhan, dan terus tertawa meski terkadang hati sedang goyah. Ya, mungkin kau menganggap tulisan ini akan sedikit cheesy dan terkesan ‘menye’, tetapi beginilah kata-kata yang tersedia, setidaknya tidak akan kau ubah menjadi peluru yang mendekam dalam ubun-ubun tengkorak.
Berlari, berlarilah seakan tidak tahu cara berhenti. Terus berpikir mencari celah di balik bebatuan yang menghadang. Melesatlah. Atau bila tidak memungkinkan untuk menyelip, tabrak saja.
Begitulah sederhananya caramu berpikir menghadapi hari demi hari. Kalau hari ini kau sedikit pincang karena terjegal lubang, besok kau harus lebih lincah melompat. Jika hari ini tanganmu bergetar kedinginan, kau harus tahan dengan panas api di telapak. Selalu kau upayakan cara untuk bertahan, dengan cara apa saja, hingga sakit yang kau genggam menjadi kebas dan kau hanya paham cara untuk bergerak ke depan.
Mungkin terdengar mustahil. Mustahil bagi seorang manusia untuk terus maju tanpa berhenti. Mustahil bagi seorang manusia untuk terus maju sendiri. Mustahil bagi kita untuk meraih apa yang kita ingin tanpa merelakan realita, tidak semua hal mesti sesuai ekspektasi. Algoritma kehidupan tidak pernah bisa ditebak dan polanya selalu berubah. Tidak mengikuti arah mata angin, tidak menoleransi kapasitas diri, pun tidak menyesuaikan apa-apa. Maka kau harus cepat beradaptasi.
Seperti parasit yang terus hidup dalam cuaca ekstrem. Seperti virus yang membeku di alam pangin dingin. Begitulah kau coba proyeksikan dirimu. Seakan tidak mau kalah dengan dengan ‘kehidupan’ itu sendiri. Kau menantang hal-hal yang tidak mungkin. Meskipun dalam hati kau sadar betul, kau tidak akan memenangkan peperangan itu sendiri. Pertarungan yang kau buat-buat sendiri.
Kau meyadari bahwa sebenarnya hidup bukanlah sebuah kompetisi. Tidak ada kontes siapa lebih baik dari siapa, siapa di atas siapa, atau apa yang kau punya dan apa yang mereka punya. Semua punya porsinya masing-masing, semua punya takar masing-masing. Namun entah mengapa kau menganggap dirimu adalah wadah yang retak di dasar kaki. Yang mebiarkan air selalu mengalir ke luar, dan tak membiarkannya terisi. Selalu ada yang kurang. Selalu ada yang tidak lengkap.
Dan di sela-sela rutinitasmu ini kau masih merasa kurang. Di sela-sela kegiatanmu ini kau biarkan egomu berpencar di udara. Kau biarkan nalurimu tentukan jalan, sedang nuranimu kau biarkan tertidur lelap.
Maka, arti dari pelarian ini tampak seperti percuma, bukan? Semua usaha ini tampak seperti, tidak pernah ada haluan. Seakan seberapa tangguh dan cerdas dirimu mengelabui haluan, kau hanya berlari sendirian, tanpa pernah ada tujuan. Kau memang akan bertahan, namun hilang dari pantauan.
