menyuarakan bahwa kita sudah menjadi satu.
Terlalu pongah menyebut dua denyut yang kebetulan berdetak beriringan sebagai satu kehidupan. Kita menabalkan diri sendiri sebagai sesuatu yang utuh, tanpa pernah menengok kepada waktu dan bertanya apakah ia bersedia menjadi saksi atas kesombongan kecil kita.
Seolah-olah semesta telah selesai menulis takdir begitu jemari saling menggenggam. Seolah-olah seluruh musim telah menandatangani perjanjian rahasia untuk selalu berpihak kepada kita.
Betapa mudahnya lidah mengucapkan selamanya. Sebuah kata yang kita anggap abadi, padahal ia hanya gelembung tipis yang mengambang di udara—indah sesaat, memantulkan seluruh cahaya yang kita miliki, lalu pecah hanya karena disentuh sesuatu yang bahkan tidak terlihat.
Padahal, selamanya bahkan tidak mampu menahan satu petang agar tidak luruh menjadi malam. Ia tidak mampu membujuk matahari untuk berhenti tenggelam, tidak mampu memaksa bunga tetap mekar ketika akarnya mulai kehilangan tanah.
Kita berjalan dengan keyakinan yang nyaris menyerupai kesombongan. Menertawakan kemungkinan berpisah seperti seseorang yang menertawakan hujan ketika langit masih berwarna biru cerah. Kita menganggap badai hanyalah cerita yang terjadi pada rumah orang lain. Kita percaya atap yang kita bangun terlalu kokoh untuk diterobos angin, padahal mungkin sejak awal kita hanya menyusun dinding dari serpihan harapan dan menyebutnya istana.
Kita mengira rumah telah selesai dibangun hanya karena berhasil mendirikan beberapa dinding. Kita menganggap luka-luka lama telah mati hanya karena untuk beberapa waktu mereka memilih diam dan berhenti mengeluarkan darah. Kita lalai, beberapa luka bukan sembuh; mereka hanya belajar bersembunyi lebih dalam, menunggu malam yang tepat untuk kembali membuka pintunya.
Barangkali sejak awal, yang kita peluk bukanlah masa depan, melainkan bayangan tentang masa depan yang kita lukis terlalu indah. Sebuah dunia kecil yang kita warnai dengan tangan sendiri, sampai lupa bahwa cat pun memiliki usia. Ia dapat retak. Ia dapat mengelupas. Ia dapat jatuh menjadi serpihan-serpihan kecil yang berserakan di lantai, menunggu seseorang menyadari bahwa sesuatu yang pernah terlihat sempurna ternyata hanya lapisan tipis yang menutupi kehampaan.
Betapa ganjilnya, ingatan tidak pernah benar-benar menyimpan kebahagiaan sebagaimana adanya. Ia seperti makhluk lapar yang perlahan menggerogoti dirinya sendiri. Ia membiarkan bentuk-bentuk kecil tetap tinggal, tetapi mencuri denyut yang membuat semuanya hidup. Ia mengikis warna, menguapkan aroma, mengubur suara, hingga yang tersisa hanyalah kerangka peristiwa yang berdiri kaku di dalam kepala.
Aku jelas ingat tempat-tempat yang pernah kita datangi. Masih hafal suara langkahmu yang mendekat, cara udara berubah ketika kau datang, arah angin sore yang pernah menyisir rambutmu. Pun ingatan bagaimana matahari menabrakkan cahayanya ke bahumu, seolah-olah hari itu sengaja diciptakan hanya untuk memperlihatkan bahwa dunia pernah begitu lembut.
Namun rasa bahagia yang dulu memenuhi dada seperti air pasang, entah mengendap di mana.
Ketika semua itu kupanggil kembali, yang datang hanyalah gema.
Kosong.
Berongga.
Aneh sekali.
Padahal dulu kita tertawa sampai lupa bagaimana rasanya bersedih. Kita membicarakan hari-hari yang bahkan belum sempat lahir, menyusun rencana-rencana kecil seolah usia akan selalu murah hati memberi kita kesempatan. Ribuan sore pernah terasa hangat. Jutaan kalimat sederhana pernah mampu membuat dunia tampak jinak.
Lalu kini, ketika semuanya kupungut satu per satu dari dasar ingatan, tidak ada lagi denyut yang sama.
Bahagia itu seperti daun-daun kering yang disentuh terlalu lama oleh musim. Sekilas masih memiliki bentuk. Masih menyimpan warna masa lalu. Tetapi ketika digenggam, ia runtuh menjadi serpihan kecil yang beterbangan tanpa suara, meninggalkan debu yang menempel di telapak tangan.
Barangkali kenangan memang memiliki cara paling kejam untuk bertahan hidup. Ia menyimpan detail-detail kecil dengan kesetiaan yang hampir menyiksa, tetapi mencuri seluruh perasaan yang pernah menghidupinya. Yang tersisa hanya arsip. Dokumentasi tanpa nadi. Sebuah museum sunyi yang memajang sesuatu yang pernah bernapas.
Aku tahu kita pernah bahagia.
Aku tahu itu pernah benar-benar terjadi. Nyata.
Dan di situlah letak ironi itu. Setiap kali mencoba menghidupkannya kembali, rasanya seperti menyalakan lampu di rumah yang aliran listriknya telah diputus bertahun-tahun lalu. Ada sakelar yang masih bisa ditekan. Ada bayangan cahaya yang masih kuingat. Tetapi ruangan itu tetap gelap, tetap dingin, tetap menunggu sesuatu yang tidak pernah kembali.
Bisa jadi, ada harga yang harus dibayar oleh orang-orang yang pernah terlalu yakin bahwa sesuatu akan tinggal selamanya.
Ketika akhirnya retak, yang hilang bukan hanya seseorang. Ada bagian kecil dari kenyataan yang ikut terkubur. Kebahagiaan yang dahulu begitu riuh perlahan dicopoti dari ingatan, hingga setiap kenangan hanya menjadi bangkai waktu—utuh bentuknya, tetapi kehilangan jiwa.
