Sejak kecil, hidupku sudah mengenal satu bentuk kebahagiaan yang paling sederhana. Dingin, manis, dan berwarna cokelat.
Ia datang dari tangan orang tuaku yang hangat, atau dari langkah saudara-saudaraku yang berkunjung. Mereka membawa sesuatu yang mungkin terasa kecil bagi mereka, tapi terasa seperti seluruh dunia bagiku.
Saat itu, aku belum tahu bahwa yang mereka bawa bukan sekadar es krim. Itu adalah cara paling lembut yang pernah diajarkan dunia kepadaku tentang rasa cukup.
Dunia yang Menua Bersama Kopi
Aku tumbuh, dan dunia tidak lagi sesederhana itu.
Orang-orang di sekitarku mulai menua bersama kopi. Mereka menyesap pahitnya, belajar menerima hidup dengan cara yang lebih “dewasa”, dan merayakan getir sebagai bagian dari realita.
Sementara aku, tetap setia pada sesuatu yang dingin.
Aku mencarinya di mana saja. Di warung pinggir jalan yang hampir dilupakan, di rak-rak beku supermarket, di minimarket yang menyala sepanjang malam, hingga di kafe yang terlalu ramai untuk sekadar merasa sendiri.
Bukan karena aku tidak ingin berubah. Tapi karena aku tahu, ada bagian dari diriku yang tidak ingin kehilangan cara lamanya untuk pulang.
Es Krim adalah Sebuah Arsip
Bagiku, es krim bukan lagi sekadar soal rasa. Ia adalah sebuah arsip.
Ia menyimpan memori tentang masa kecil yang masih utuh, tentang luka yang pernah reda tanpa suara, dan tentang versi diriku yang terus bertahan dengan cara yang tidak selalu dipahami oleh orang lain.
Perlahan, orang-orang terdekatku belajar membaca itu. Mereka tidak lagi menawarkan banyak kata atau nasihat panjang saat aku sedang kalut. Mereka hanya datang dengan kalimat yang sama, seolah sudah menjadi bahasa yang disepakati tanpa pernah diajarkan:
“Kalau kamu sedih, cari aku… kita jajan es krim bareng.”
Sederhana, tapi entah kenapa, terasa seperti janji yang sangat serius. Karena di balik itu, ada pengertian yang tidak memaksa. Ada kehadiran yang tidak berisik.
Menolak untuk Kehilangan Diri
Mungkin benar, yang selama ini aku genggam bukanlah es krim itu sendiri, melainkan cara kecil untuk tetap merasa hidup, tanpa harus kehilangan diriku yang paling awal.
Sebab di dunia yang terus menuntutku menjadi lebih kuat dan lebih keras, aku hanya memilih satu hal agar tetap utuh:
Menjadi seseorang yang masih bisa merasa bahagia oleh sesuatu yang dulu pernah membuatnya merasa dicintai.