Sebagian besar kegelisahan manusia tidak lahir karena hidup terlalu sulit, tetapi karena kita berharap hidup selalu dapat diprediksi. Kita menyusun rencana, membuat berbagai kemungkinan, dan berusaha mengantisipasi segala hal. Namun, semakin keras kita mencoba mengendalikan kehidupan, semakin sering kita kecewa ketika kenyataan memilih jalannya sendiri.
Tanpa sadar, sebagian besar kecemasan yang kita rasakan, lahir dari keinginan untuk mengendalikan sesuatu yang memang tidak pernah berada dalam genggaman kita.
Manusia memang menyukai kepastian. Ketika sesuatu terasa tidak pasti, pikiran kita akan segera mengisi kekosongan itu dengan berbagai kemungkinan. “Bagaimana kalau gagal?” “Bagaimana kalau dia berubah?” “Bagaimana kalau semua usahaku sia-sia?”
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini sering kali terdengar seperti bentuk antisipasi, padahal lebih sering menjadi pintu masuk bagi kecemasan yang berkepanjangan.
Ironisnya, hidup tidak pernah menawarkan jaminan. Tidak ada rumus yang mengatakan bahwa kerja keras selalu berakhir dengan keberhasilan, ketulusan selalu dibalas dengan kesetiaan, atau rencana yang matang pasti berjalan sempurna.
Kita hidup di dunia yang dipenuhi variabel yang tidak bisa kita atur, seperti keputusan orang lain, perubahan keadaan, waktu, bahkan keberuntungan.
Di sinilah banyak dari kita terjebak. Kita menghabiskan energi untuk memikirkan hasil, padahal yang benar-benar bisa kita lakukan hanyalah mengendalikan proses.
Masalahnya, kita sering membalik keduanya. Kita justru terlalu sibuk memikirkan hal-hal yang tidak bisa diubah, sementara mengabaikan hal-hal yang sebenarnya bisa kita lakukan hari ini.
Namun, memahami apa yang bisa dan tidak bisa kita kendalikan bukan berarti membuat kita terbebas dari rasa takut atau cemas. Kita tetap manusia yang akan merasakan khawatir, sedih, kecewa, dan ragu.
Dr. Susan David, seorang psikolog di Harvard Medical School dan penulis buku terkenal berjudul Emotional Agility, menjelaskan bahwa kesehatan emosional bukan berarti kita tidak pernah merasa takut, sedih, atau cemas. Justru orang yang sehat secara emosional tetap bisa merasakan semua emosi itu, tetapi tidak membiarkan emosi tersebut mengendalikan setiap keputusan yang ia ambil.
Kita hanya perlu berhenti menjadikan rasa takut sebagai pengemudi hidup kita.
Sering kali, keinginan untuk mengendalikan segala sesuatu lahir dari niat yang baik. Kita ingin melindungi diri dari kekecewaan. Kita ingin memastikan tidak ada yang salah. Namun, ketika kebutuhan akan kepastian menjadi terlalu besar, hidup berubah menjadi ruang yang penuh kewaspadaan. Kita selalu memikirkan apa yang mungkin terjadi, sampai lupa hadir dalam apa yang sedang terjadi.
Berdamai dengan hal yang tidak bisa kita kendalikan bukan berarti berhenti bermimpi. Bukan pula berarti menyerahkan hidup begitu saja kepada nasib. Berdamai berarti mengalihkan perhatian dari hasil yang belum tentu terjadi menuju tindakan yang bisa kita lakukan hari ini.
Mungkin kita tidak bisa menentukan kapan kesempatan datang.
Tetapi kita bisa mempersiapkan diri ketika kesempatan itu tiba.
Mungkin kita tidak bisa menghapus masa lalu.
Tetapi kita bisa memilih pelajaran yang akan kita bawa ke masa depan.
Mungkin kita tidak bisa membuat semua orang menyukai kita.
Tetapi kita bisa memastikan bahwa kita tetap hidup sesuai dengan nilai yang kita yakini.
Pada akhirnya, hidup bukan tentang memiliki kendali atas segala sesuatu. Hidup adalah tentang mengetahui kapan harus berusaha sepenuh hati, dan kapan harus melepaskan dengan lapang dada.
Sebab terkadang, keberanian bukan hanya tentang seberapa kuat kita menggenggam sesuatu, tetapi juga tentang seberapa bijaksana kita memahami bahwa tidak semua hal memang ditakdirkan untuk kita kendalikan.
Ini sejalan dengan apa yang disampaikan Marcus Aurelius dalam Meditations. Ia percaya bahwa ketenangan tidak datang ketika kita mampu mengatur semua hal di luar diri kita, tetapi ketika kita mampu menjaga pikiran tetap tenang di tengah keadaan yang tidak pasti. Beliau menulis:
“You have power over your mind, not outside events. Realize this, and you will find strength.”
Kutipan tersebut mengingatkan bahwa kekuatan terbesar manusia bukan terletak pada kemampuannya mengendalikan segala sesuatu di luar dirinya, melainkan pada kemampuannya mengendalikan cara berpikir dan merespons keadaan.
Karena hidup tidak meminta kita menguasai segala sesuatu. Hidup hanya meminta kita belajar menguasai diri sendiri.
Mungkin, ketenangan mulai hadir ketika kita mampu berkata:
“Aku akan memberikan yang terbaik untuk hal-hal yang bisa kulakukan, dan aku akan mengikhlaskan hal-hal yang memang tidak pernah menjadi milikku untuk dikendalikan.”
end.
