Ada satu pola yang baru aku sadari setelah hubungan ketiga yang berakhir dengan cara mirip-mirip: awalnya perhatian banget, bikin aku ngerasa spesial, terus pelan-pelan jadi dingin, susah dihubungin, dan aku yang akhirnya kerja paling keras buat nyelametin hubungannya.
Tiga orang beda, latar belakang beda, tapi rasanya kayak nonton film yang sama dengan pemeran ganti doang.
Awalnya aku pikir ini soal sial. Ketemu orang yang salah tiga kali berturut-turut. Tapi seorang temen yang kerjanya terapis nanya satu pertanyaan yang bikin aku kepikiran lama: “kamu ngerasa nyaman nggak, sama orang-orang yang gampang ditebak dan konsisten dari awal?” Aku diem. Soalnya jujur, jawabannya nggak. Orang yang stabil dan predictable dari awal malah kerasa hambar buat aku. Yang bikin aku tertarik justru yang naik-turun, yang butuh diperjuangkan, yang bikin aku deg-degan karena nggak yakin dia bakal bales chat atau nggak.
Ternyata itu bukan soal selera. Itu pola yang punya penjelasan psikologisnya sendiri.
Kenapa Kita Bisa “Ketarik” ke Pola yang Nyakitin
Freud dulu nyebut ini repetition compulsion, dorongan bawah sadar buat ngulang dinamika emosional yang familiar dari masa kecil, meskipun dinamika itu dulu nyakitin. Riset attachment modern nambahin konteks: kalau dulu kita tumbuh dengan pengasuh yang nggak konsisten, kadang hangat, kadang jauh, kadang harus diperjuangkan dulu perhatiannya, otak kita belajar bahwa itu bentuknya “cinta.” Bukan karena itu sehat, tapi karena itu familiar. Dan otak kita, secara default, lebih milih yang familiar daripada yang aman.
Ini yang bikin orang dengan attachment cemas sering banget ketarik sama orang yang attachment–nya avoidant, yang jauh plus susah komit. Kombinasi push-pull ini kerasa kayak “chemistry” atau “passion,” padahal yang sebenernya terjadi adalah nervous system kita lagi coba nyelesain sesuatu yang belum kelar dari dulu, dengan cara ngulang polanya lagi dan berharap kali ini hasilnya beda.
Aku nggak akan bahas ini kepanjangan, soalnya bagian yang lebih penting bukan kenapanya, tapi apa yang bisa dilakuin soal ini. Dan itu dimulai dari satu skill yang jarang diajarin: bedain karakter sama perilaku.
Perilaku Itu Kejadian. Karakter Itu Pola.
Ini definisi simpel yang ngubah cara aku milih orang. Perilaku itu satu tindakan, di satu momen, di satu konteks. Dia lupa ulang tahun aku. Dia baper waktu aku telat bales chat. Dia sekali marah gara-gara capek kerja. Semua itu perilaku, dan perilaku itu bisa terjadi ke siapa aja, termasuk orang paling baik di dunia sekalipun, karena manusia nggak sempurna.
Karakter itu beda. Karakter adalah pola yang muncul berulang-ulang, lintas waktu dan lintas situasi, terutama waktu situasinya nggak ideal. Karakter bukan soal “apa yang dia lakuin sekali,” tapi “apa yang konsisten dia lakuin, terutama pas dia capek, kesel, nggak ada yang liat, atau nggak untung apa-apa buat dia.”
Masalahnya, di masa-masa awal deket sama seseorang, kita cenderung ngeliat perilaku dan buru-buru nyimpulinnya jadi karakter. Dia perhatian banget di dua minggu pertama, kita simpulin “dia orangnya perhatian.” Padahal itu baru satu data point, di kondisi yang paling gampang buat siapa aja jadi versi terbaiknya: masih excited, masih pengen kesan bagus, belum ketemu versi kita yang capek atau ngeselin.
Momen yang Beneran Ngungkapin Siapa Dia
John Gottman punya istilah yang aku suka: sliding door moments. Momen-momen kecil sehari-hari, waktu kamu curhat soal hari yang capek, waktu kamu bercanda receh, waktu kamu butuh ditemenin tapi nggak bilang eksplisit, yang jadi kesempatan buat orang lain “masuk” atau “jalan terus.” Satu momen kayak gitu nggak berarti apa-apa. Tapi kalau dikumpulin, pola dari ribuan momen kecil ini yang sebenernya nentuin apakah hubungan itu dibangun di atas fondasi yang kuat atau keropos.
Dan momen-momen kecil ini justru lebih jujur dibanding momen-momen besar yang direncanain. Siapapun bisa keliatan romantis waktu ngasih kejutan ulang tahun. Yang lebih ngungkapin karakter justru momen yang nggak ada “penonton”-nya: gimana dia ngomong ke pelayan restoran waktu ordernya salah. Gimana dia respons waktu rencananya berantakan karena hal di luar kontrol. Gimana dia cerita soal mantan atau temen yang lagi berantem sama dia, apa dia ngambil tanggung jawab atau selalu jadi korban di setiap cerita. Gimana dia ngomong soal orang yang nggak bisa ngasih dia keuntungan apa-apa.
Aku belajar nyari momen-momen kayak gini lebih dari nyari “tanda-tanda dia serius.” Soalnya kata-kata gampang banget diucapin. Momen kecil yang nggak dipersiapin itu yang susah dipalsuin.
Filter yang Sebenarnya Aku Butuh, Bukan Daftar Kriteria
Setelah nyadar pola ini, aku berhenti nyusun kriteria kayak checklist (“harus perhatian, harus humoris, harus mapan”), dan mulai nanya pertanyaan yang lebih jujur ke diri sendiri di tiap hubungan baru:
Apakah rasa tertarik ini karena dia beneran orang baik, atau karena dinamikanya familiar, ada rasa harus “dapetin” perhatiannya, ada rasa nggak aman yang bikin aku makin ngejar?
Kalau jawabannya yang kedua, itu bukan berarti dia orang jahat, tapi berarti aku perlu lebih hati-hati baca situasinya, bukan cuma ngikutin rasa deg-degannya.
Terus, apakah kebaikan yang dia tunjukin ini konsisten waktu situasinya nggak ideal, atau cuma muncul waktu semuanya lagi enak-enak aja? Orang yang baik cuma waktu segalanya lancar itu bukan karakter, itu masih perilaku yang gampang.
Dan yang terakhir, ini yang paling nampol buat aku: apa aku ngerasa harus jadi versi terbaik terus-terusan biar dia stay, atau aku boleh capek, boleh nggak sempurna, dan dia tetep di situ? Kalau hubungan itu cuma bisa jalan waktu aku effortful terus, itu bukan tanda hubungannya spesial. Itu tanda aku lagi kerja keras nyelametin sesuatu yang sebenernya nggak stabil dari fondasinya.
Memutus Rantai Itu Bukan Soal Nggak Boleh Tertarik Lagi
Aku nggak akan bilang solusinya adalah “jangan ketarik sama orang yang familiar.” Itu nggak realistis, dan nggak semua rasa familiar itu berbahaya. Yang aku pelajarin adalah: rasa tertarik yang intens di awal itu informasi, bukan instruksi. Boleh dirasain, tapi jangan langsung dituruti tanpa dicek dulu, ini beneran cocok, atau ini cuma pola lama yang lagi nyamar jadi chemistry?
Karakter seseorang nggak keliatan dari gimana dia bikin kamu ngerasa di bulan pertama. Karakter keliatan dari pola yang dia ulang, terutama di momen-momen kecil yang nggak dia sadar lagi diliatin. Dan begitu kamu belajar nunggu buat liat pola itu, bukan buru-buru nyimpulin dari satu dua momen indah, rantai yang selama ini nariknya balik ke pola lama, pelan-pelan bisa putus sendiri.
