Mungkin Aku.
Aku menemukan buku, berjudul kamu. Buku tua, kertas eropa tahun kosong dua. Ia berejakan cinta yang bersemayam di antara debu-debu lama. Aku membaliknya satu per satu, perlahan, karena cinta tidak perlu dipaksakan.
Kamu penuh dengan teka-teki yang semampunya ku isi. Tidak ada lembar jawaban yang memastikan semuanya, hanya teka-teki. Perlahan ku sapu debu yang menutupi tanyamu, aku mau melihat, memahami, dan mungkin datang hari ketika aku mampu memenuhi renungmu.
Aku tandai setiap halaman yang telah kumengerti. Sesak rasanya, debumu tak kunjung reda, tetapi aku belum mau berhenti membaca. Sesekali, aku berjeda, mencari referensi dan kembali menghadapimu sendiri di ruang sunyi. Begitu terus, sepanjang hari.
Akhirnya, ada sesuatu yang kupecahkan. Debu adalah bagian dari keindahanmu. Waktu lah yang membawanya berselimut pada tiap-tiap lembar lakumu. Ku kembalikan semua yang ku sapu, menutupimu kembali, karena cinta tidak perlu mengubahmu.
Aku mengambil jeda lebih lama. Kamu justru memberikan teka-teki baru. Namun, waktu tidak akan menunggu. Aku harus membawamu atau menaruhmu kembali, dengan rapi dan penuh debu, seperti ketika aku menemukanmu.
Baiklah, setidaknya sampai nanti, aku coba untuk terus mendekatimu.
