Terkadang aku berpikir,
mungkin cukup sampai di sini saja.
Di umur 25.
Bukan karena aku benar-benar ingin menghilang,
tapi karena aku tidak tahu harus melanjutkan ke mana.
Hidup terasa seperti jalan panjang.
yang tidak pernah benar-benar memberitahuku.
apakah aku berjalan ke arah yang benar,
atau hanya sekadar… berjalan.
— -
Di umur ini, aku melihat banyak orang mulai “menjadi sesuatu.”
Mereka menemukan arah, menemukan tempat, menemukan seseorang.
Sementara aku?
Aku masih mencoba memahami.
kenapa hal-hal yang aku jaga dengan sungguh-sungguh.
selalu terasa rapuh di tanganku.
Seperti apa pun yang aku sentuh.
perlahan kehilangan bentuknya.
— -
Aku sudah mencoba.
Mencoba jadi cukup.
Mencoba jadi baik.
Mencoba jadi seseorang yang berarti untuk orang lain.
Tapi entah kenapa,
selalu ada titik di mana aku merasa.
aku bisa digantikan kapan saja.
Seolah kehadiranku tidak pernah benar-benar dibutuhkan —
hanya kebetulan ada.
— -
Kadang aku lelah harus selalu kuat.
di hidup yang tidak pernah benar-benar memberiku tempat untuk jatuh.
Karena setiap kali aku jatuh,
yang aku temukan bukan pelukan,
tapi keharusan untuk berdiri lagi.
sendirian.
— -
Dan di titik-titik seperti itu,
pikiran itu datang lagi:
“Bagaimana kalau cukup sampai 25 saja?”
Bukan sebagai keputusan,
tapi sebagai keinginan kecil.
untuk berhenti merasakan semua ini.
— -
Tapi di antara semua itu,
ada bagian kecil dari diriku.
yang masih bertahan.
Bukan karena aku yakin semuanya akan baik-baik saja,
tapi karena aku belum benar-benar siap.
untuk menyerah sepenuhnya.
— -
Mungkin aku belum jadi apa-apa.
Mungkin aku belum punya apa-apa.
Mungkin aku masih sering salah,
masih sering kehilangan,
masih sering merasa tidak berarti.
Tapi aku masih di sini.
Dan untuk saat ini,
itu satu-satunya hal yang bisa aku pegang.
— -
Jadi mungkin…
aku tidak benar-benar ingin berhenti di 25.
Aku hanya ingin hidup terasa sedikit lebih ringan.
Sedikit lebih masuk akal.
Sedikit lebih… layak untuk dijalani.
— -
Dan kalau itu belum aku temukan sekarang,
mungkin aku akan tetap berjalan sedikit lagi.
Walaupun pelan.
Walaupun ragu.
Walaupun masih sendirian.
Karena mungkin,
di suatu titik yang belum aku tahu,
ada alasan kenapa aku masih bertahan sampai hari ini.
