Hi, I’m Sasa. Aku adalah perempuan yang tidak terlalu percaya akan cinta. Bagiku, cinta hanyalah penjara tak kasat mata yang akan menahan diriku, menjeratku, hingga perlahan aku kehilangan diriku sendiri. Namun, semua itu berubah ketika seseorang datang ke hidupku.
Arsen Dikara.
Namanya aku samarkan, tapi di mana pun kamu berada, you must know this is for you.
Sejak awal dia mencoba mendekatiku setelah sebelumnya kami bertemu di acara ulang tahun temanku, aku tak terlalu meresponnya. Aku takut. Takut kalau ia akan sama seperti laki-laki lain yang pernah mendekat. Takut kalau ia hanya datang sesaat dan menganggapku sebagai sebuah lelucon sebab jatuh begitu mudahnya.
Aku ingat dengan jelas saat itu adalah awal bulan maret. Ketika ia mencoba dengan keras untuk menembus batasan yang aku buat. Ketika aku perlahan mulai luluh pada cintanya.
Awalnya, aku memang tak tertarik. Aku terus mengabaikannya, hingga satu hari, aku menemukan kesamaan antara diriku dan dirinya.
Selera musik.
Aku sangat menyukai Niki Zefanya, begitu juga dengannya. Dari kesamaan itulah aku perlahan mulai merespon setiap pesannya. Kami semakin dekat hingga aku tahu bahwa ia adalah seseorang yang tidak satu iman denganku.
Aku ragu dan takut. Aku tak siap dan terus bertanya tanya … jika kami lanjut semakin dalam, hubungan ini mau dibawa ke mana? Tapi … sisi lain dari diriku berkata bahwa kami hanya dekat dan belum tentu tenggelam lebih jauh.
Long story short, aku luluh. Aku menerimanya saat ia memintaku menjadi pacarnya. Dengan mawar merah yang memenuhi keranjang rotan. Aku merasa bahwa kini aku menemukan seseorang yang tepat.
Selama berpacaran, Ar selalu menjadi sosok yang sabar. Tak pernah sekalipun ia menaikkan nadanya saat marah denganku. Ia selalu lembut, Arsen-ku selalu menjadi pria yang penuh kelembutan.
Usia kami terpaut tiga tahun, tak terlalu jauh. Namun, kedewasaannya membuatku semakin mencintainya. Ketika aku harus dibonceng teman laki-laki ku untuk membeli bahan tugas kelompok, ia tak marah. Atau ketika aku memberitahunya bahwa teman laki-laki ku sedang meminta saranku untuk hubungannya, Ar juga tak marah.
Semakin hari aku semakin jatuh cinta padanya. Ar sangat menghormati batasanku, tak pernah memaksaku melakukan hal hal yang aku tak suka. Ia bahkan selalu mengingatkanku ketika waktu ibadahku sudah tiba.
Saat itu, aku berpikir bahwa aku semakin tenggelam. Bahwa kami semakin tenggelam. Kalimat “Aku mencintaimu” tak pernah absen dari percakapan kami. Meski begitu, tak ada satupun dari keluarga kami yang tahu tentang hubungan ini sebab baik aku ataupun Ar, kami merasa belum siap.
Teman-temanku berkali-kali mengingatkanku bahwa aku sudah terlalu jauh, bahwa aku seharusnya berhenti jika tak ada setitik keberanian di diriku untuk berkata yang sejujurnya ke keluargaku, bahwa aku harus berhenti … agar tak ada seseorang yang harus meninggalkan Tuhannya.
Pada saat itu, aku masih yakin, bahwa dengan bersabar sedikit lagi, semua kekhawatiran mereka akan aku selesaikan.
Hingga hari itu tiba.
Aku tak mendapatkan kabar tentangnya sepanjang hari. Aku marah? Tidak. Aku terlalu khawatir untuk itu. Aku bingung, apakah aku harus menghampirinya? Tapi aku punya urusan penting di hari esok. Terutama jarak kotanya dan kotaku cukup jauh.
Aku bertanya ke temannya, dan tak ada satupun yang tahu.
Hingga pukul sebelas malam, ia membalas pesanku. Berkata bahwa ia sakit dan sedang di igd. Kekhawatiran ku berubah menjadi amarah. Dan disitulah salahku.
Seharusnya aku tak mengiriminya puluhan pesan, seharusnya aku bertanya tentang kondisinya. Apa yang kulakukan? Aku justru bertanya mengapa ia tak bisa meluangkan waktu satu menit saja untuk membalas pesanku.
Kami berdebat, dan sama seperti sebelumnya, tak ada Ar yang kasar padaku. Bodohnya aku, aku mengambil keputusan yang sangat salah.
Aku mengajaknya untuk break.
Saat itu, aku merasa sangat lelah. Aku merasa seolah Ar tak pernah ingin membagi bebannya padaku. Dan saat itu juga aku teringat bahwa ia tak pernah menceritakan masalahnya lebih dalam padaku, tidak seperti yang sering aku lakukan.
Aku bertanya padanya, mengapa ia tak pernah berbagi hal berat itu padaku? Mengapa ia selalu berusaha untuk menanggungnya sendiri?
Jawabannya hanya-
“Aku gak mau senyummu hilang karena beban yang belum bisa aku selesaikan.”
Malam itu, aku seolah kehilangan beribu kalimat yang ada di kepalaku.
Satu-satunya yang berhasil aku sampaikan hanyalah … ajakan untuk break.
Ar tak setuju. Ia menolak dengan keras dan bilang-
“Break cuma bikin kamu terbiasa tanpa aku,”
Seolah tak mau dengar, aku terus meminta untuk break padanya. Aku merasa bahwa kami butuh waktu, dan ini bisa kembali dibicarakan setelah kami lebih tenang.
Tapi … semua tak seperti harapanku. Alih-alih mengiyakan ajakan break yang aku pinta, ia justru mengajakku putus.
Awalnya, aku menolak. Hingga dua buah kalimat darinya menyadarkanku-
“Kalau kita lanjut, kamu hanya akan terus merasa sakit. Sakit karena aku bukan seseorang yang bisa berkeluh kesah seperti yang kamu harapkan, juga sakit karena aku dan kamu tidak berada di iman yang sama.”
Akibat dari ucapannya, aku kembali teringat dengan puluhan nasihat dari teman-temanku. Dan malam itu, aku tersadar bahwa aku tak pernah menang setitik pun.
Aku menjawabnya-
“Aku lebih sakit kalau gak ada kamu, Ar.”
Jawabannya datang lebih cepat dari yang aku duga-
“Lebih baik kamu sakit karena berusaha ngelupain aku, daripada kamu sakit di hubungan yang arahnya gak jelas,”
“I’m letting you go. Please, find your happiness. Temukan laki-laki lain yang jauh lebih baik dari aku, juga yang satu iman denganmu.”
Malam itu, aku resmi melepasnya.
Dengan derasnya air mata yang membasahi pipiku, aku melepasnya. Aku benar-benar melepasnya.
Satu tahun sudah berlalu, dan aku masih berusaha dengan keras untuk menghapus cintaku padanya. Tak pernah ada satupun laki-laki yang berhasil mengubah perasaanku.
Hari-hari setelah putus kulalui dengan cukup berat. Sangat berat, mungkin. Tak ada lagi seseorang yang memanggilku dengan sebutan Cat.
Kini, aku seolah kehilangan jejaknya. Semua sosial media miliknya tak dapat aku temukan. Semua foto kami sudah hilang sebab ponsel lamaku rusak setelah jatuh ke air.
Dan yang ku punya saat ini tentangnya hanyalah memori. Memori sejak awal ia mendekatiku, memori saat kami berpacaran, juga memori saat kami bertengkar dan berakhir putus.
Setiap malam aku masih sering menangisinya, dan tangisku menjadi sangat deras ketika aku menemukan sebuah kalimat-
“Kita ditemukan di masa muda, sebab kita tak bisa menua bersama.”
Ar, wherever you are, you should know that I’m still here. Aku masih di sini, memeluk sisa cintaku untukmu, juga memori tentang kita berdua se-erat mungkin. Sebab aku tahu, di manapun kamu sekarang, our paths will never cross again.
Dari kamu aku belajar, bahwa titik tertinggi mencintai, adalah mengikhlaskan. Dan karena itu juga, hari ini, aku melepasmu. Semoga, kamu berhasil menemukan seseorang yang bisa mengerti kepalamu, juga yang jauh lebih baik dibanding aku.
Ar, aku akan berusaha move on. Meskipun terlambat, aku sadar bahwa tak seharusnya aku terus-menerus menjadikan titik terakhir cintamu sebagai alasanku menutup diri.
Terimakasih untuk semua suka dan duka yang pernah kita lalui bersama, terimakasih sudah menjadi laki-laki yang berhasil mengubah pandanganku. Wherever you are, please, be happy.
Dan … terimakasih juga untuk besarnya cintamu yang pernah menghangatkan hatiku.
Kalau ada kehidupan selanjutnya, tolong jadi pasanganku dengan versi iman yang sama, ya?
I loved you, Ar.
Kisah ini kubagikan untuk mengenangnya, juga sebagai bentuk ikhlasku atas hubungan kami. Memang benar apa yang semua orang katakan, bahwa aku tak seharusnya memaksakan diriku untuk menjalani hubungan dengan risiko sebesar ini.
Tapi apapun itu, aku tak pernah menyesal. Sebab bagiku, bertemunya adalah salah satu skenario terindah yang Tuhan pernah kasih untukku.
Salam hangat ❤
2 July 2026
Sa. Aurora
