Aku berjalan di lorong waktu yang memantulkan gema langkahku sendiri. Hidup terkadang menyerupai senja yang turun perlahan, menaburkan warna-warna lembut di antara harapan yang hampir pudar. Dalam keheningan itu, aku belajar membaca bahasa hati yang lama bersembunyi di balik riuh pikiran.
Ada hari ketika kegelisahan menjelma seperti kabut tipis yang menggantung di permukaan jiwa, tidak menutup seluruh pandangan, tetapi cukup membuat arah terasa samar. Aku berdiri di tengah kabut itu, merasakan dinginnya menyentuh batin, lalu perlahan menyadari bahwa setiap kabut selalu menyimpan janji tentang cahaya yang sedang menunggu waktu untuk turun.
Ketakutan berdiam di sudut pikiranku seperti bayang yang enggan beranjak.
Namun, semakin aku mendengarkan detak dalam dada, semakin aku mengerti bahwa keberanian tidak selalu lahir dari suara yang lantang. Tumbuh dari bisikan halus yang mengatakan bahwa aku masih mampu bertahan, masih mampu berjalan, masih mampu percaya.
Doa-doa mengalir pelan seperti arus sungai yang menelusuri lekuk bumi tanpa tergesa.
Membawa segala yang tak sempat kuucapkan menjadi aliran yang sampai kepada langit. Dalam aliran itu, aku merasakan kehadiran yang menenangkan, seolah semesta memeluk kegelisahan tanpa meminta penjelasan.
Hidup bergerak seperti musim yang menukar warna daun tanpa suara. Ada yang gugur, ada yang tumbuh kembali dengan kesegaran yang tak pernah sama.
Aku belajar menerima perubahan itu sebagai cara semesta menulis keteguhan di dalam diriku.
Tidak semua kehilangan berarti kehampaan, sebagaimana tidak semua penantian berarti kesunyian.
Kini aku berdiri di halaman batin yang lebih lapang. Angin masih berhembus membawa sisa keraguan, tetapi akar keyakinan terus menembus tanah kepercayaan.
Aku percaya, selama aku menjaga harapan tetap bernapas, perjalanan ini akan selalu menemukan arah pulang.
Dan di antara sunyi yang sering menyapa, aku belajar satu hal yang sederhana. Segala yang datang akan berlalu, dan segala yang berlalu akan meninggalkan kekuatan yang membuatku tetap berdiri, tetap berjalan, tetap hidup dalam cahaya yang tumbuh dari dalam diri.
