Tak peduli bagaimana beratnya hari kemarin, esok pagi dengan rutinitas yang tak pernah absen, aku masih meminum latte di tempat yang sama, dengan pemandangan yang juga itu-itu saja. Memangku benda persegi yang sekarang rasanya telah menjadi separuh jiwaku, membaca artikel yang berbeda disetiap harinya.
Menyapu pandang pada langit yang berwarna biru, terbenam dalam lamunan akan ketidakpastian. Akhir-akhir ini, asa yang memiliki bentuk sempurna rasanya mulai melebur menjadi sebuah serpihan yang tajam. Menyakitkan bagaimana asa itu menancap dan merobohkan diriku secara perlahan, membuatku takut untuk kembali memilikinya.
Kerap kali aku merasa bahwa hidup bukanlah sebuah pilihan, rasanya bahkan tak punya kesempatan untuk memilih. Dibanding memilih, kita lebih sering menelan dan menutupi segala kekecewaan dengan kalimat “Mungkin memang ini takdirnya.” Perasaanku pagi itu kemudian divalidasi sekaligus dikoreksi oleh sebuah artikel yang ku baca.
Jika dalam hidup manusia benar-benar bisa memilih, tidak akan ada kehidupan yang dapat dihargai. Semua manusia akan memilih yang terbaik bagi dirinya sendiri. Lalu bagaimana kita tahu sesuatu itu baik saat semuanya terasa baik.
Dikutip dari sebuah artikel “Merasa dan Memiliki Asa” — by gisella
Ribuan kata yang tertulis dalam artikel itu membuka sudut pandangku. Nyatanya, jika manusia bisa memilih maka mereka hanya akan memilih yang terbaik bagi dirinya sendiri, menjadi egois, dan mungkin lupa akan sang pencipta, mungkin akan lupa bagaimana rasanya mengucap syukur. Manusia akan kehilangan eksistensinya di dunia ini.
Karena jika benar hidup itu pilihan, aku akan lebih memilih untuk tidak hidup. Karena terkadang menyakitkan melihat diriku yang merasa bersalah karena telah hidup.
Aku takut untuk kembali memiliki asa. Takut asa yang kupunya hanya akan membawaku tergerus jauh ke dalam kubangan yang gelap. Aku kehilangan cara tentang bagaimana memaknai hidup, berdiri di tengah ketidakpastian selalu meresahkanku. Maka rasanya artikel yang ku baca pagi itu telah menyelamatkanku. Ketidakpastian dan ketakutan akan masa depan justru adalah hal yang masih membuatku hidup sampai sekarang, menjadi alat penggerak yang paling ampuh walau rasanya ingin sekali menyerah.
Rupanya aku tidak kehilangan asa. Ia hanya berubah bentuk menjadi sebuah serpihan kecil. Aku masih memilikinya, karena jika aku benar-benar tidak memilikinya, mungkin aku tidak ada untuk menulis ini.
Maka dari secangkir kopi dan artikel yang menemaniku kala itu, aku memutuskan untuk memulai kembali perjalanan.
Untuk menutup tulisan ini, dari jiwaku yang nyaris kehilangan asa, ingin ku katakan bahwa:
Sebanyak apapun keinginan, impian, dan doa yang masih belum sempat menjelma menjadi sebuah kenyataan, manusia harus tetap memelihara asa di dalam jiwanya. Barangkali dengan segala kenyataan pahit, impian yang mati berguguran, dan hari yang penuh sepi dan hampa itulah yang membentuk kita menjadi manusia yang lebih lembut, dan lebih mampu memahami perjuangan atau penderitaan orang lain.
Salam hangat
-n
