Rumah yang mengizinkanku masuk, menyucikanku, dan membiarkanku berteriak mengeluarkan semua muntahku.
Haii Bas, apa kabar? Semoga baik selalu yaah.
Hidupku kian jauh dari cahaya. Kurasa kegelapan senantiasa menyertaiku. Kini aku kian suram dan tak nampak elok lagi.
Dulu sempat terucap janji kita untuk saling mengisi. Di akhir dencit kasur saat kau belai rambutku, janji manis itu terasa penuh makna. Namun, di mana kita sekarang?
Waktu begitu indah saat kita saling mencinta, meski kau takut akan dirimu. Mungkin memang benar ucapanmu, di kala akhir jalinan cinta ini, tiada tempat untuk kita, katamu. Sempat kupikir, jikalau kau mau dan aku juga, cukup saja kita berdua melawan dunia. Nyatanya, aku pun lelah untukmu. Meyakinkanmu atas dirimu dan kita berdua.
Bukankah melelahkan, Bas? Selalu bersembunyi, menutupi diri dengan senyum manis, kumis tipis, dan mata polosmu. Kamu tahu dirimu, tapi tidak pernah kau pilih.
Memang benar adanya, dunia ini tiada tempat untuk kita. Bahkan dengan cinta dan gairah yang begitu membara, kita saja tidak cukup, atau dunia belum siap dengan cinta kita.
Tiada rumah untukku di sini. Ruangku penuh sesak, suaraku sunyi tak pernah terdengar, tiada bahu untuk kusandar, tiada tangan merangkul.
Bas, kini terpikir olehku tentang rumah itu. Saat aku ditunggu pulang, bahkan boleh kubawa segala kotornya diriku. Neraka. Rumah yang mengizinkanku masuk, menyucikanku, dan membiarkanku berteriak mengeluarkan semua muntahku.
Jika sekali saja kita dipertemukan kembali dalam sore yang menghilang berganti redup, kau dan aku mengelilingi kota tengah malam dalam lampu jalan yang remang, berlanjut dengan dencitan mesra asmara. Aku mau rasakan lagi bibirmu, lembut kulitmu, dan kekar perutmu. Sekali lagi saja kita bercumbu pelan dan menikmatinya sampai kita lupa akan waktu yang terus berdenting, berganti desahku saat kau cumbu. Tak usah lagi kau hiraukan dunia. Akan kubawa sendiri dosa ini ke rumahku, neraka.
Bas, meski kini gusar dan penuh gulana diriku, aku tetap ingin hidup. Mengingatmu dan kenangan kita, kumeyakinkan diri akan cinta. Meski kita tidak lagi menjadi kita, setiap detik antara kau dan aku akan kukenang sendiri. Yakinku akan ada lagi hari bahagia untukku tanpamu.
Harapku untukmu, semoga kau terima dirimu, mencintainya seperti aku mencintaimu.
— nona.
