Dulu, belasan tahun lamanya
aku mengaku mencintai warna ungu. Si kombinasi antara merah dan biru.
Aku mencintai bukan sebab ia memanggil namaku,
melainkan karena banyak suara bertutur bahwa aku cocok dengannya,
bahwa ungu adalah warna yang indah.
Maka, tanpa banyak celoteh panjang,
aku menaruh rasa itu
dan perlahan menyebutnya sebagai milikku.
Setelahnya, waktu demi waktu berlalu.
Semakin menuntunku pada warna biru.
Ungu yang sempurna, berpecah belah menjadi merah dan biru.
Merah yang kutinggalkan, biru yang kusimpan.
Biru yang menghampar di langit semesta,
setiap kali kepala ini lelah menunduk.
Biru diam-diam mengajariku
bahwa luas tak selalu harus gaduh.
Aku menemukannya pada laut,
pada rintik hujan yang menyisakan tenang,
pada mimpi-mimpi yang selalu berangkat
ke arah cakrawala.
Entah mengapa,
hidup berkali-kali mempertemukanku
dengan segala yang bernapas biru.
Seakan semesta sedang berkata,
“Lihatlah kemari, lebih lama lagi. Kamu akan betah bersamanya.”
Dan aku pun percaya,
barangkali birulah rumah yang kucari.
Namun perjalanan rupanya belum selesai.
Rupanya, biru kudapati pada palung di dalam samudera.
Terlalu gelap, terlalu sunyi hingga itu membuatku sesak.
Langkahku menyusuri semburat jingga yang meluruh dari langit, lalu terbias oleh kaca jendela,
pijaran lampu tersebut meneteskan warna-warna hangat.
Di antara halaman buku yang menguning,
aroma kopi yang mengepul pelan,
meja kayu yang menyimpan jejak waktu,
aku berjumpa dengan warna
yang tak pernah memintaku untuk dipilih.
Coklat.
Ia tak mencuri perhatian seperti ungu,
tak seluas langit yang dipinjam biru.
Ia hadir dengan cara paling sederhana,
tetapi memelukku dengan cara
yang tak pernah dilakukan warna lain.
Coklat mengajarkanku
bahwa keindahan tak selalu mesti bersinar;
kadang ia tinggal
di dalam hal-hal yang telah lama hidup dan bertahan.
Coklat,
seperti kenangan yang tak ingin dihapus,
seperti surat tua yang masih menyimpan harum,
seperti waktu yang menua,
tanpa kehilangan makna.
Kini aku paham.
Mencari warna favorit
ternyata bukan tentang memilih mana yang paling cantik maupun mana yang paling sempurna jika dipandang,
Mencari warna favorit
ternyata tentang menemukan warna yang paling jujur mewakili siapa diri ini.
Dan setelah langkahku kian jauh menyusuri waktu,
aku tak lagi berkata,
“Aku suka warna ini karena semua orang menyukainya,”
atau,
“Aku menyukai warna itu karena semua orang memperkenalkannya.”
Kini aku berkata dengan tenang,
aku mencintai coklat,
karena di sanalah
aku akhirnya menemukan diriku sendiri.
