Dengan segelas kopi di tanganku, aku mulai duduk, lalu menaruh pelan kopi itu ke meja.
Aku diam sejenak sambil memandangi beberapa pohon hijau di sebrang sana.
Fokusku teralihkan setelah mendengar suara riuh dari dalam rumah, sedikit menoleh ke arah dalam rumah, tapi setelah itu aku kembali fokus kepada kopi yang ada di hadapanku.
Kopinya pait
Atau bahkan
Lebih pait dari kehidupanku?
Pikiranku kacau jadinya,
mendengar suara teriakan dari dalam rumah
Ada yang menangis
Ada yang memaki
Dan ada juga yang membela dirinya
Dan aku di depan justru sedang duduk tenang meskipun dengan pikiran yang berantakan.
Tapi, pernahkah kalian merasa asing di lingkungan yang di mana kalian sudah berada di sana bahkan sejak masih kecil?
Iya,
Itulah yang aku rasakan sekarang
Merasa asing di lingkungan yang di mana aku sudah berada di sana sejak masih kecil.
“Siapa aku sebenarnya? Apakah aku benar bagian dari mereka? Jika iya, Bagaimana aku bisa tenang di kala riuhnya rumah ini? Dan bagaimana aku bisa tumbuh dengan baik ketika mereka selalu sibuk masing-masing dengan kehidupan mereka. Apa karena aku hebat? Atau… memang belum waktunya?”
Pertanyaan-pertanyaan itu…
Adalah makanan sehari-hariku bisa dibilang.
Bertahun-tahun aku hidup sebagai orang asing di rumah ini;
Sampai ada kalanya orang-orang yang mendengar ceritaku mengatakan
“Kamu tahu, An. Rasanya kamu seperti malaikat yang di tugaskan untuk menenangkan mereka tahu”
Aku hanya tersenyum,
Karena aku tahu malaikat tidak pernah lelah.
Sedangkan aku sering menangis ketika malam tiba.
Jadi, benarkan aku seperti itu?
Atau memang, aku hanyalah anak kecil yang berusaha untuk tetap lembut di antara riuhnya dunia ini?..
