Cacat sepeninggalanmu
Ada yang tinggal dalam diriku setelah kamu memilih untuk memutar-balikkan badanmu untuk menjauh dari diriku. Kehilanganmu ternyata bukan sekedar air mata yang jatuh, dunia yang berubah menjadi abu-abu, rasa makanan yang tak lagi sama, semua lebih dari itu. Aku merasa ada sebagian tubuhku yang juga berputar menjauh ketika kamu memilih untuk memutar-balikkan badanmu, mereka ikut pergi dengan dirimu yang kian semakin jauh. Aku seperti dicabut paksa, meraba dada sendiri dan menemukan sebuah kekosongan dan rongga-rongga yang menganga, aku tak lagi utuh sebagai manusia pada umumnya.
Kini, aku hidup diatas ambang kehancuran bahwa diriku tak lagi sama. Berdiri, namun dalam keadaan yang pincang. Senyum, tapi tak lagi melebar sama seperti kala nya aku dengan dirimu
Hari-hari yang semakin berat, jiwa yang tak layak untuk berada di tubuhku ini perlahan mulai mengalir dan menggigit sel-sel dalam tubuhku.
Banyak kehilangan yang tidak dapat dijelaskan ketika kamu pergi, rongga dada yang selalu sakit dan terbuka lebar seakan akan menjadi sakit yang begitu hebat.
Setiap hari aku mencoba melangkah, namun ada rasa goyah yang benar-benar hebat. Dia terasa enggan untuk menjalani harinya namun sebagian diriku memaksa untuk tetap berjalan untuk melakukan kewajibannya yang harus dijalani setiap harinya.
Rasanya seperti aku mati berdiri tapi masih harus tetap melangkah seperti hari biasanya, jalan pulang tak lagi sama, arahnya tidak tahu entah kemana.
Aku rindu kepadamu tapi aku tak bisa lagi mengatakannya dan bertemu denganmu lagi, rasanya pena ini begitu berat ketika mengucapkan “aku rindu” selalu ada hati yang sakit dan air mata yang terjatuh secara terus-menerus ketika mengucapkan kata rindu
Rasanya semakin hari semua mencengkeram karena tak lagi bersamamu, aku hanya ingin menggenggam tanganmu lagi dan merasakan bahwa aku selalu baik-baik saja dan dunia ini adalah milikku dan milikmu kembali
Sinar bulan dan matahari masuk melalui celah jendela, menyinari tubuhku yang tak lagi kamu peluk dan jemariku yang tak lagi kamu genggam. Aku mencoba menggerakkan tubuh dan lenganku yang rasanya begitu mati dan hampa dengan kekosongan didalamnya, seakan tubuhku dan sel-sel nya enggan mengikuti gerakan kekosongan ini dan tubuhku rasanya sudah menyerah untuk merasakan apapun lagi.
Aku selalu bertanya :
“Bagaimana aku sembuh dari semua ini? obatnya saja sudah menjauh.”
“Duniaku bagaimana, dia dimana, bagaimana keadaannya sekarang? aku terlalu jauh”
“Bulan masih terang setiap malam, matahari selalu menyinariku. Hanya satu yang hilang, dimana cinta semestaku?”
Setiap kali aku di kamar mandi dan menatap kaca sesekali, aku begitu merasakan kekosongan yang berada di dalam binar mata ku, aku tidak mengenal sosok seperti apa aku ini sebenarnya setelah sepeninggalanmu. lensa mata nya tak lagi sama, dirinya ada tapi jiwa nya selalu absen.
Dunia selalu baik-baik saja, berita selalu menjanjikan bagaimana hari ini, cuaca begitu jelas kedepannya kita prediksi, semua transportasi umum bergerak lancar seperti biasanya. Tapi aku? sebagai manusia? aku tidak merasakan itu semua setelah-nya, ada raga dan jiwa yang ikut meninggalkan diriku ketika dia memilih untuk memutar-balikkan badannya.
