Sepertinya benar, penyadaranku mengenai kekalutan hebat selama satu bulan lalu adalah datang dari sebuah respon trauma. Sejak pikiran ini tiba, saat itulah aku menjadi tenang. Tidak ada lagi sakit kepala, kabut di otak, hati yang berat, dan jantung kembali berdetak dengan irama yang seharusnya. Rasanya tubuhku seperti mengonfirmasi jawaban yang aku cari. Mungkin benar adanya bahwa kadang tubuh lebih cepat mengenali sebuah pelajaran yang harus diambil, ketimbang pikiran yang terlalu bercabang. Mungkin benar adanya rasa sakit tiba dan akan terus ada sampai aku bisa mengerti apa pesan dibaliknya.
Dari rasa sakit kali ini aku jadi paham tidak ada yang salah di sini, bukan salah dia ataupun salahku. Tubuhku hanya ingin berkata masih ada luka yang tersisa yang terlupa dan perlu ditata. Iya, luka dikhianati oleh ayah sendiri itu ternyata masih bersisa setelah bertahun-tahun lamanya. Ketika hidup berjalan meninggalkan ingatan bahwa kejadian itu pernah ada. Aku pikir hal itu cukup, aku pikir seperti yang banyak orang bilang, waktu akan mengobati semuanya. Sampai saat luka tersembunyi ini berteriak minta dirawat setelah sekian lama bersabar, seolah menunggu giliran, menunggu hal lain terselesaikan, dan kali ini kembali mengingatkan.
Mungkin saja juga bukan hanya luka, mungkin saja sebagian dariku yang lain berusaha menjadi pelindung. Diriku bereaksi ketika ada sebuah interaksi baru yang tidak biasa. Dia membunyikan alarm keras-keras untuk mengingatkan hubungan ini bisa menjadi petaka dan membawa aku ke dasar palung yang sebelumnya sudah susah payah aku tinggalkan. Meskipun alarm ini berbunyi terlalu dini, ketika bahkan kami belum sempat interaksi lebih lagi.Tapi bukankah ini sebuah hal yang perlu disyukuri? Diriku diberkahi agar begitu peka untuk menjaga.
Aku pernah berkata, “tanpa memiliki hubungan dengan orang lain pun, kita tetap melalui proses pendewasaan”. Tapi ternyata saat aku mencoba membuka pintu, membiarkan orang lain masuk ke dalam hati yang selalu aku jaga rapat-rapat merupakan sebuah proses pendewasaan yang lain, yang tidak aku sangka justru aku butuhkan karena dia membawa sebagian diriku yang lain, kali ini luka yang tidak aku sadari. Untuk hal ini, rasanya aku ingin mengirimkan pelukan terhangat pada diriku sendiri karena kali ini aku berani mencoba.
Sejauh tulisan ini, rasanya hatiku semakin menemukan ketenangannya, menemukan tempatnya. Mungkin merawat luka tidak selalu membutuhkan sesuatu yang heroik. Mungkin ia hanya perlu disadari dan dipahami. Tidak pula perlu dijadikan sebuah kemalangan. Mungkin ini pelajaran yang ingin tuhan titipkan bahwa aku belum sepenuhnya mengenali dan menyelami diriku sendiri sebelum mengenal orang lain. Mungkin dengan memahami lukanya, akan lebih mudah menenangkannya. Mungkin setelahnya, cangkirku bisa lebih besar dan siap menerima kasih dari seseorang di luar sana yang tidak ragu menumpkah sebanyak-banyaknya.
Mungkin juga agar aku punya bekal untuk melalui proses pendekatan lebih tenang, perlahan, dan objektif. Agar aku tahu dengan apa yang sebetulnya aku cari di dalam sebuah ikatan. Agar ketika aku merasakan letup-letup bahagia, tidak mudah hilang arah.Tidak juga mudah cemas bahwa ini akan menjadi sebuah hubungan yang lebih lagi, terintimidasi, lalu lari. Atau ketika menemukan ketidakselarasan, tidak mudah menyimpulkan bahwa ini sebuah kesalahan, dan tetap lari.
Membuka banyak kemungkinan akan dinamika yang perlu dijalani ketika menemukan pribadi berbeda pada diri orang lain. Atau menerima bahwa kadang pertemuan memang bukan untuk bertahan. Ketika itu tiba, aku bisa melepaskan dan memulai lagi dengan ketenangan. Mungkin pada intinya tuhan hanya ingin membuat aku lebih dewasa dan lebih kuat untuk mencoba bertahan. Karena sampai kapan?
