Entah sudah berapa lama kubiarkan hari-hari berlalu begitu saja
tanpa kutandai satu pun di dinding ingatan
sebab kalbu ini rupanya memang sedang betah
berdiam di tanah yang tak jua basah.
Ada yang berseru “pergilah ke rimba”
katanya jemputlah angin, susuri sungai yang jauh.
Aku hanya mengangguk, lalu diam saja
sebab yang kering ini bukan tempat yang bisa ditapaki.
Cawan tersaji di hadapanku, ntahlah sejak kapan
uapnya naik lalu hilang begitu saja ke udara.
Kuseruput pelan-pelan
tak apa dingin, biar aku yang menentukan waktunya.
Mereka bilang gersang tak boleh dibiarkan, mesti lekas disiram
mesti dicari sebabnya, mesti diobati segera.
Tapi barangkali gersang pun punya haknya sendiri
punya musim yang tak boleh diusir paksa.
Maka biarlah, kubiarkan tanah ini kering dulu
tak semua yang layu sedang menuju mati.
Kalbu ini masih gersang, dan tak apa
semua musim mesti dinikmati dan dilalui
Kelak kalau sudah tiba masanya nanti,
hijau itu akan datang tanpa perlu diseru-serukan lagi
terinspirasi dari lagu “teh hijau” tulus
