Part 2 — Satu Huruf Pembuka.
Semua cerita besar selalu punya awal yang sederhana. Bagiku, awal itu berupa satu huruf kecil yang muncul di layar ponselku pada suatu malam di bulan Agustus 2 tahun lalu.
“P”
Hanya itu, sebuah pesan singkat tanpa basa basi yang masuk ke nomor WhatsApp-ku beberapa jam setelah acara jalan santai di tempat itu selesai. Hari itu, aku datang sebagai vokalis yang diundang untuk mengisi acara. Aku tidak mengenalinya sama sekali di tengah kerumunan para peserta dan panitia. Namun belakangan aku baru tahu, jauh sebelum hari itu rupanya dia sudah lebih dulu mengikuti akun instagramku.
Melihat pesan yang super singkat dan dari nomor tak dikenal itu, aku mengernyitkan dahi. Tanganku bergerak mengetik balasan yang tak kalah ketus.
“??”.
Tak butuh waktu lama sampai layarku kembali menyala,“Panitia acara tadi”, begitulah jawabnya.
Dari sanalah obrolan kami mengalir. Jujur saja, suasanaku malam itu biasa saja. Tidak ada kembang api yang meledak di kepalaku, tidak ada debaran instan. Bagiku, dia hanyalah anak SMK yang sedang menjalani masa-masa remajanya, seorang “anak kecil” yang usianya 2 tahun lebih muda dariku yang berstatus mahasiswa baru. Karena jarak usia itu, aku menanggapinya dengan santai. Aku mulai membalas pesanya dengan flirting bercanda, bahkan dengan iseng aku memanggilnya “sayang” hanya untuk menggodanya. Aku sama sekali tidak berniat untuk serius.
Sampai akhirnya, dia menantang arus itu dengan mengajakku berpacaran. Aku mengiyakanya, mengira ini hanya akan jadi permainan iseng untuk mengisi waktu luang. Toh, aoa yang bisa diharapkan dari cinta monyet seorang anak sekolahan?
Aku tidak pernah menduga bahwa dalam hitungan hari, setelah panggilan video demi video yang memperlihatkan betapa lucunya dia, benteng yang kubangun sendiri mulai goyah.
Puncaknya adalah saat sekolahku mengadakan acara dan mengundang para alumni, aku memutuskan untuk mengajaknya bertemu. Di sela-sela riuhnya acara waktu itu, aku memilih untuk menemuinya, sosoknya berdiri di depanku. Dan demi Tuhan, di detik aku menatap wajahnya langsung, batinku mendadak berisik. “Anak ini ternyata lucu”.
Malam itu, di bawah langit Agustus yang sama aku menyadari satu hal yang menakutkan. Aku yang awalnya hanya ingin bermain main justru menjadi pihak yang jatuh cinta paling dalam.
(Sebelumnya: BACA Under The Same Moon — Part 1 di sini )
