Bicara soal mimpi terasa begitu asing bagiku akhir-akhir ini. Rasanya seperti tercekik, setiap kali ingat bahwa rupanya dulu aku pernah punya begitu banyak mimpi yang ingin segera kuraih dalam satu genggaman. Semuanya tanpa terkecuali. Sayang seribu sayang, nyatanya semua harus terhenti sebelum aku sempat menyusun rencana lainnya.
Aku melanjutkan hidup. Perlahan, setapak demi setapak. Meski tak jarang setetes air mata ikut mengambil peran dalam perjalanannya. Mungkin kalau boleh aku akan mengutip sebuah lirik lagu dari Bernadya; untungnya dunia masih berputar. Untungnya ku tak pilih menyerah. Karena pada akhirnya, memang untungnya aku tidak pilih menyerah.
Sampai akhirnya aku disini. Di tempatku bernaung saat ini.
Dan dari banyak hal yang bisa dan harus syukuri, salah satu yang paling adalah kehadiran sosoknya. Sebagai teman cerita, teman berbagi keluh juga kesah, teman berbagi waktu. Masih banyak lagi. Terimakasih tak pernah henti ku ucapkan padanya dan Sang Pencipta.
Aku baru sadar seberapa jauh ku melangkah dari tempat terakhir kali aku terpaksa melepaskan semuanya saat dia membawa ku kembali ke situ. Tempat ia memutuskan untuk menerbangkan mimpinya jauh tinggi ke batas yang sulit terlampaui manusia seperti kami.
“Aku tidak bermaksud mengecilkan perasaanmu, tapi kamu bukan satu-satunya orang yang terpaksa mengubur semua cita dan harap demi ketidakpastian dunia ini.”
Aku, kamu, dan kita semua setidaknya pasti harus merelakan sesuatu yang kita harapkan, yang kita yakini adalah sebuah hal yang paling benar dan paling tepat. Tapi menurut siapakah itu? Mungkin hanya hati kecilmu saja.
Mungkin saja kamu benar.
Tapi mungkin juga kamu salah.
Sekali lagi, tidak ada yang benar-benar pasti di dunia yang sifatnya sementara ini.
Satu hal yang bisa kita lakukan adalah belajar menerima dan mengerti, bahwasanya memang benar harus ada yang direlakan untuk sebuah ketidakpastian yang lainnya. Bukan semata karena orang lain. Bukan juga karena tak mampu. Tapi justru karena Sang Pencipta tahu, kamu mampu.
Aku juga tidak akan menyuruhmu untuk segera lapang dada menerima semua. Pun juga benar-benar melepaskan apa yang dulu sangat ingin kamu capai dalam semalam. Tidak akan pernah.
Aku justru ingin kamu memberi kesempatan pada dirimu sendiri, untuk sesekali membawa dirimu berkunjung kembali ke masa itu. Ambil jeda sebentar dan tarik nafas sedalam-dalamnya sebelum kamu menghembuskannya kembali. Memang tidak ada jaminan kamu akan merasa baik-baik saja setelahnya, tapi, hey, ingat lagi kamu tidak benar-benar sendirian. Ada aku.