Bandung, 2024.
Bandung pernah mempertemukan dua orang asing dengan cara yang begitu sederhana hingga rasanya seperti sebuah kebetulan. Padahal mungkin, semesta memang sedang menulis sebuah bab yang kelak harus selesai. Dari percakapan-percakapan kecil yang terasa tak pernah kehabisan arah, dari banyaknya persamaan yang membuat waktu berlalu tanpa terasa, hingga keberanian seseorang yang akhirnya mengutarakan apa yang selama hampir satu tahun disimpannya dalam diam.
Aku sempat ragu. Bukan karena tidak ingin, melainkan karena takut salah melangkah. Tiga hari kemudian, aku memilih membuka pintu itu. Dan sejak saat itu, kita berjalan di jalan yang sama.
Beberapa perjalanan memang terasa hangat hanya untuk sementara.
Ketika aku kembali ke kota asal, jarak perlahan mengubah banyak hal. Bukan karena kilometer yang memisahkan, melainkan karena hati yang mulai berhenti saling mencari.
Ada pesan yang tak lagi ditunggu balasannya. Ada cerita yang tak lagi membuat mata berbinar. Ada kabar yang perlahan kehilangan tempat untuk pulang.
Lalu, tanpa benar-benar kusadari, aku lebih sering berbicara dengan pertanyaanku sendiri daripada dengannya.
Barangkali yang paling menyakitkan dari sebuah perpisahan bukanlah keputusan untuk berpisah, melainkan tidak pernah diberinya kesempatan untuk memahami mengapa semuanya berubah.
Aku dibiarkan menyusun kemungkinan demi kemungkinan. Menyalahkan diri sendiri. Mempertanyakan apakah aku pernah cukup berarti, atau sejak awal hanya sedang singgah di tempat yang tidak pernah benar-benar menganggapku rumah.
Pada akhirnya, aku memilih pergi lebih dulu. Bukan karena sudah berhenti menyayanginya, melainkan karena aku tidak ingin terus tinggal di tempat yang bahkan tidak lagi menyadari keberadaanku.
