Saya sedang merasa gondok dengan pacar saya, saya rasa dia terlalu ingin diperhatikan sedang perhatian dia terhadap saya tak sebanding dengan yang saya berikan kepadanya. Bagi orang yang sangat gila akan keadilan seperti saya, saya merasa seperti sedang dicurangi dalam sebuah permainan. Dimana hanya satu pihak saja yang berkuasa sedang pihak lain hanya bisa mengikuti keinginan pihak lainnya.
Jika seseorang mengatakan bahwa hubungan kami “toxic” mungkin saya bisa percaya untuk sesaat, mau bagaimana pun juga hubungan dua orang tidak cukup jika hanya dengan mengobrol, kita perlu lebih dari sekedar ngobrol apalagijika salah satu pihak terlalu mudah merasa “tersinggung”. Jika seseorang mengatakan bahwa hubungan kami “toxic” mungkin saya bisa saja percaya, tapi saya juga akan menyangkal nya tentu saja.
Saya pikir, saya terlalu banyak mengalah untuk banyak hal dalam hubungan ini. Hanya untuk menjaga perasaan kekasih saya yangb terlalu egois (saya rasa), jika hanya ingin dimengerti mungkin cukup berbicara dengan psikolog saja… yakan?. Karena hubungan ini berada jauh dari prinsip saya sebelum sebelumnya, dimana saya lebih menyukai suara atau pendapat yang jelas berbanding dengan jawaban ambigu yang bisa menjadi pisau bermata dua.
Kita ambil dari contoh kecil yang sudah beberapa kali terjadi, dan dengan siklus yang sama setiap kalinya. Kami memiliki hubungan pertemanan yang sama buruknya dan yang saya inginkan adalah setiap salah satu dari kami punya masalah dengan teman atau siapapun itu kita bisa bertukar cerita, tapi tidak begitu nyatanya…, setiap kali dia punya masalah dengan teman saya atau temannya dia selalu mengeluhkan semuanya kepada saya tapi tidak dengan saya. Belum lama ini saya dipermalukan dengan “teman” kekasih saya di depan banyak orang dan respon yang dia berikan kepada saya sungguh diluar ekspektasi saya, dia lebih memilih membela temannya yang jelas jelas sudah maki maki saya di depan banyak orang dengan kata kata yang tak sepatutnya diucapkan ditempat umum. Jika saya bisa berteriak saya mungkin akan berteriak sekeras mungkin nyatanya tak bisa, ini jelas sangat berbanding dengan sikap saya yang membela dia hingga saya tak punya satu pun teman di lingkungan saya, bukan kah sudah sewajarnya saya merasa demikian????.
Saya paham, di usia kami yang masih belasan ini kita masih sangat membutuhkan teman. tapi tidak begini juga.