Selongsong peluru, di satu minggu itu;
sabtu malam hanyalah sebuah hari
dan satu hari sahajanya dari waktu
namun aku ingkar terhadap sunyi
kemudian memeluk tubuh nan gelap
ajak aku bersenggama selamanya
bercinta dengan ejaan kata dalam tubuhmu
mengisi setiap kalimat dalam cumbu
dan mengingat rasa ludahmu yang tertelan
aku hanya ingin kau tahu
demi setiap kecupan di dada
saat rasa sesak dipenuhi olehmu
sebagaimana biarkan tubuh yang berbicara
satu minggu,
kupersilahkan daku selamanya
bersetubuh dan cengkeram lah wajahku
lalu ciumi aku hingga menggelenyar
buatlah aku terus terpana
akan keindahan mu,
—harum mu,
juga rasamu
ingatlah aku sebagai satu kata
entah itu indah,
—cantik,
ataupun rasaku
lahap aku dalam seminggu ini
untuk hangatnya,
—rindunya
maupun hasratnya
sebelum satu tubuh di antara kita tanpa jantung
buatlah darah di dalamnya habis,
hingga tubuhku dibuat membiru olehmu
kaku kehabisan nafas karena belaianmu
itu lebih baik, orang-orang akan mengenalku dengan “Si Wanita Bercinta”
setidaknya—aku pergi didekapmu, olehmu dan karena dirimu
