It’s better not to meet again than to suffer the same pain.
Mari tidak bertemu lagi di kemungkinan manapun, dalam kemungkinan apa pun. Biarlah semesta mengubur segala kemungkinan itu, merapikan jarak yang sejak awal memang hanya kutempuh sendiri. Ada perasaan yang tumbuh diam-diam di satu hati, lalu belajar selesai tanpa pernah dimulai.
Pertemuan kita terlalu indah untuk diulang. Biarkan aku menyimpannya sebagai kenangan yang utuh — bukan sebagai kisah yang terus kupaksa hidup di masa depan yang tak pernah memanggil namaku.
Jika suatu hari lintasan waktu kembali bersinggungan — atau bahkan berpotongan, semoga kita hanya menjadi dua nama yang pernah singgah di ingatan masing-masing. Tidak ada lagi gemuruh di dada, tidak ada lagi tanya yang menggantung di udara — di antara jarak yang tak terucap. Hanya ada senyum kecil yang lahir dari kesadaran sederhana: kau pernah menjadi sebuah kisah, meski hanya hidup di lubuk hatiku.
Mari tidak bertemu di kemungkinan manapun, dalam kemungkinan apa pun.
Di pagi yang pelan-pelan menyalakan cahaya baru, di senja yang dulu sempat kuisi dengan harapan untuk bersamamu, bahkan di mimpi yang kadang terlalu baik hati mempertemukan hal-hal yang sebenarnya tak pernah benar-benar terjadi.
Biarlah jarak berdiri di antara kita seperti penjaga yang tenang supaya kenangan tetap tinggal sebagai kenangan–bukan luka yang harus kurasakan lagi sendirian.
Cinta yang paling tulus adalah cinta yang tetap memilih pergi meski tak pernah benar-benar memiliki.
Di antara sekian banyak jalan yang dibentangkan semesta, jalan terbaik adalah yang tidak lagi membawaku ke arahmu. Bukan karena ada benci yang tumbuh di hati, melainkan karena perasaan yang pernah kuletakkan padamu terlalu dalam untuk terus kupaksa hidup sendirian.