Kadang yang paling melelahkan itu bukan tentang memberi, tapi tentang sadar bahwa kita memberi terlalu banyak waktu, tenaga, perhatian, bahkan bagian dari diri sendiri lalu melihat semuanya dianggap biasa saja.
Menjadi “lilin” terdengar indah, tapi tidak ada yang benar-benar membicarakan bagaimana lilin itu perlahan habis, meleleh, dan akhirnya kehilangan bentuknya sendiri. Dan saat itu terjadi berulang kali, wajar kalau yang muncul bukan lagi ikhlas, tapi lelah.
Jadi, peduli itu mukjizat atau kutukan? Mungkin keduanya. Peduli adalah mukjizat ketika jatuh pada orang yang tepat yang tahu cara menghargai, menjaga, dan membalas dengan tulus. Tapi bisa terasa seperti kutukan ketika diberikan pada orang yang hanya terbiasa menerima tanpa pernah belajar memahami.
Menjadi orang yang “nggak peduli” sebenarnya bukan berarti berubah jadi dingin atau jahat. Kadang itu hanya berarti belajar memberi batas. Belajar bahwa tidak semua orang harus diselamatkan. Tidak semua luka orang lain adalah tanggung jawabmu. Dan tidak semua hubungan harus kamu perjuangkan sendirian.
“Kalo kita baik ke orang lain, orang lain akan baik juga ke kita” — kalimat itu tidak selalu benar. Dunia tidak bekerja seadil itu. Kadang kita baik, lalu tetap disakiti. Kadang kita tulus, lalu tetap dianggap remeh. Kebaikan bukan transaksi otomatis yang menjamin balasan setimpal.
Tapi bukan berarti kebaikan itu sia-sia. Hanya saja, arahkan kebaikanmu dengan bijak. Jangan sampai kamu terus menuangkan air ke gelas orang lain sampai lupa bahwa gelasmu sendiri kosong.
Kamu tidak harus berhenti peduli. Kamu hanya perlu berhenti mengorbankan diri untuk orang yang bahkan tidak sadar kamu sedang terbakar.
Ada perbedaan besar antara “baik hati” dan “mengizinkan diri terluka terus-menerus”.
Jadi mungkin yang perlu dipelajari bukan cara menjadi tidak peduli, tapi cara peduli tanpa kehilangan diri sendiri. Karena hati yang lembut itu anugerah, asal kamu juga tahu kapan harus berkata, “cukup”.
