Close Menu
tisitwas.comtisitwas.com
  • Home
  • Breakups
  • Conflicts
  • Dating Tips
  • Marriage
  • Romance
  • Self-Love
  • Toxic Signs

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

The moment I knew: Out of the blue, he said he’d never wanted children but would have a baby with me | Dating

May 30, 2026

After HC intervention, Prayagraj ADM clears Muslim man’s conversion application

May 30, 2026

Prayagraj cold storage collapse case: Former SP MLA’s son gets bail

May 30, 2026
Facebook X (Twitter) Instagram
Facebook X (Twitter) Instagram
tisitwas.comtisitwas.com
  • Home
  • Breakups
  • Conflicts
  • Dating Tips
  • Marriage
  • Romance
  • Self-Love
  • Toxic Signs
tisitwas.comtisitwas.com
Home»Breakups»Could you just remind me why?. Cedar — Gracie Abrams | by sery | May, 2026
Breakups

Could you just remind me why?. Cedar — Gracie Abrams | by sery | May, 2026

kirklandc008@gmail.comBy kirklandc008@gmail.comMay 2, 2026No Comments10 Mins Read
Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp Email
Could you just remind me why?. Cedar — Gracie Abrams | by sery | May, 2026
Share
Facebook Twitter LinkedIn WhatsApp Pinterest Email

sery

Cedar — Gracie Abrams

Press enter or click to view image in full size

Hujan turun dengan lebat sewaktu Alexa baru saja tiba di depan sebuah kafe. Perempuan itu menepuk lengan jaketnya pelan, mengibaskan tetesan air hujan dari sana. Kepalanya terangkat sebentar, menatap air hujan yang menyerbu awning berwarna cream di atasnya dengan senyuman kecil, sebelum akhirnya senyum itu menghilang saat pandangannya kembali ke dalam kafe dan melihat sepasang mata sudah menatapnya lebih dulu.

Alexa menarik napas panjang, mempersiapkan diri untuk memasuki kafe yang selalu dia datangi selama tujuh tahun lamanya— sebelum menjadi tempat yang tak lagi dia lirik sejak setahun lalu.

Bel di atas pintu kafe bergerak, mengeluarkan suara yang cukup membuat beberapa orang menoleh sekilas. Alexa melangkah pelan, mendekati seorang laki-laki yang duduk di pojok ruangan.

Kiandra.

Bahkan menggumamkan nama laki-laki itu di dalam hati saja cukup membuat hujan di luar sana seakan berpindah ke dadanya yang sudah terasa sesak.

“You came.”

“You asked me.” Alexa melirik minuman Kiandra yang tidak lagi mengepulkan asap, menandakan laki-laki itu sudah cukup lama di sana.

Alexa duduk di hadapan laki-laki itu. Matanya melirik ke sekeliling, menatap setiap sudut kafe yang tak pernah berubah sedikitpun.

Tempat itu bukan tipe kafe yang sengaja dibuat estetik. Tidak ada dekorasi yang memaksa orang jatuh cinta padanya. Tidak ada sudut yang meminta difoto. Semuanya sedikit tua, sedikit usang, sedikit lelah.

Ditambah lampu kuning redup di segala sisi yang membuat semua orang terlihat lebih lembut dari aslinya. Membuat tempat itu berbahaya bagi orang yang membawa kenangan. Kesederhanaannya memberi ruang bagi perasaan untuk terdengar lebih jelas.

Alexa kembali menatap Kiandra. Bahu laki-laki itu begitu rileks. Punggungnya sedikit bersandar. Satu jarinya melingkari mug, membenarkan dugaan Alexa kalau minuman itu sudah tidak lagi hangat.

Air wajah Kiandra tampak tenang — begitu tenang seperti bagaimana laki-laki itu biasanya, dan Alexa benci itu. Alexa benci bagaimana Kiandra tetap tampak tenang dalam segala situasi. Postur yang tampak nyaman. Gerakan yang tidak pernah berlebihan. Tatapan yang tidak tajam, tidak dramatis, juga tidak menuntut perhatian.

“I ordered for you.”

Dan suaranya yang lembut. Tidak pernah lebih keras dari yang dibutuhkan. Tidak pernah bergetar, bahkan saat laki-laki itu menyanggupi permintaan Alexa untuk menyudahi hubungan keduanya setahun lalu.

“Tea. No sugar.”

“You remembered.” Kalimat itu keluar lebih pelan dari yang Alexa maksudkan.

Ada perasaan lain yang ikut bersama kata-kata itu. Bukan hanya terkejut, tapi juga sedih karena Kiandra mengingatnya. Seseorang yang dulu gagal memahami banyak hal tentang dirinya, tidak perlu mengingat detail sekecil cara dia meminum teh.

“I remember everything useless.” Kiandra berucap datar, hampir seperti bercanda pada dirinya.

“That’s not useless,” balas Alexa cepat.

Dia tahu itu bukan bercanda. Itu cara Kiandra merendahkan hal-hal yang sebenarnya penting baginya. Kiandra sering melakukan hal itu, menyebut sesuatu ‘tidak penting’ hanya karena tak tahu cara mengaku bahwa hal itu berarti.

Bagaimana mungkin mengingat kesukaannya menjadi hal tak berarti?

Bagaimana mungkin perhatian sekecil itu dianggap hal tak berguna?

Ada sedikit rasa kesal yang muncul karena hal itu, sebelum akhirnya Alexa kembali sadar kalau mereka bukan lagi siapa-siapa.

“So…” Alexa berdeham. “Why did you ask me here?”

Kiandra terdiam sebentar, memberikan perhatiannya kepada hujan di luar sana. “I wanted to see if I still missed you in person.”

Mulut Alexa terbuka. Ribuan perasaan menyerbunya setelah mendengar jawaban enteng Kiandra yang kini sudah kembali menatapnya.

“That is an insane sentence.” Alexa mengerutkan kening.

“It’s more efficient than lying.”

Lagi. Alexa membenci bagaimana Kiandra masih begitu tenang seakan ucapannya bukanlah apa-apa.

“Why now?” Alexa berusaha mengatur napasnya. “Why text me now?”

Kiandra tampak bimbang beberapa saat. “I saw a girl on the train wearing your perfume.”

“That’s embarrassing.”

“For me or her?”

“For you.”

Kiandra mengangguk pelan. “Probably.”

“And that made you text me?”

“It made me realize I was still arranging my life around not thinking about us.”

Entah ke berapa kalinya Alexa benci saat Kiandra lagi-lagi terdengar tenang. Ditambah kata-kata laki-laki itu barusan seperti seseorang yang baru selesai menyimpulkan sesuatu tentang dirinya, seperti baru menyadari apa yang dirasakannya selama ini.

“That’s manipulative.” Alexa berucap tajam.

Bukan karena dia benar-benar yakin Kiandra sedang memanipulasinya. Tapi karena dia perlu menahan efek yang baru saja dia rasakan.

Kiandra hanya perlu satu kalimat untuk membuat detak jantungnya naik beberapa tingkat.

Dua belas bulan sudah berlalu. Waktu berjalan. Hari berganti. Alexa tetap menjalani harinya. Menyusun rutinitas baru. Mencari lagu lain. Menghapus setiap jejak kecil yang mengingatkannya kepada Kiandra. Dan laki-laki itu tetap bisa memberikan efek kepada tubuhnya hanya dengan satu kalimat , bahkan tanpa menyentuhnya sama sekali.

“It’s descriptive,” koreksi Kiandra, nyaris datar secara menyebalkan.

“You’re annoying.”

“I know.”

Alexa tertawa sinis. Memalingkan kepalanya ke arah jendela beberapa saat. Dia butuh objek lain untuk dilihat selain Kiandra.

“You know what I hated most?”

“What?”

Alexa kembali memberikan tatapannya kepada Kiandra. “No matter how hard I tried to live with myself, I still found nights asking what went wrong.”

Ekspresi Kiandra sedikit berubah — nyaris tidak terlihat, kalau saja Alexa sedang tidak memberikan tatapan penuh kepada laki-laki itu.

“I still wondered what was so big that it could separate us…” Alexa berhenti beberapa saat. “And there was still no answer.”

Alexa benci mengingat bagaimana dia terus memperingatkan dirinya sendiri — sebelum mendatangi kafe itu — untuk tidak terlihat lemah di hadapan Kiandra. Tapi sekarang, justru di depan laki-laki itu, dia mengaku; mengatakan dengan jujur bagaimana selama setahun terakhir masih ada malam-malam di mana dia terus mempertanyakan tentang mereka. Dan itu membuatnya kesal pada dirinya sendiri.

“We already called it back then, didn’t we?” Alexa tersenyum miris. “So why does it feel like something’s unfinished?”

Selama setahun, Alexa belajar untuk hidup berdampingan dengan pertanyaan itu, membiarkannya lewat tanpa benar-benar mencari jawaban yang tidak pernah datang. Tapi begitu pesan dari Kiandra muncul, semuanya terasa dekat lagi — bukan hal baru, bukan juga sesuatu yang tiba-tiba muncul, melainkan sesuatu yang memang tidak pernah benar-benar pergi.

Dan mungkin itu juga alasan kenapa dia tetap datang. Bukan karena berharap semuanya berubah, tapi karena, tanpa perlu diucapkan, mereka berdua sama-sama tahu, ada sesuatu yang belum pernah benar-benar mereka selesaikan.

Karena nyatanya, tidak pernah ada luka yang cukup besar untuk dijadikan alasan kuat untuk benar-benar selesai. Tidak ada kesalahan fatal. Tidak ada satu momen yang bisa dia tunjuk sebagai titik hancur. Yang ada hanya hal-hal kecil yang tak pernah sempat dibicarakan, jarak yang tumbuh tanpa suara, dan pertanyaan tentang siapa yang salah yang tak pernah menemukan jawaban.

“I tried too — to think about it.” Kiandra mengangkat bahu kecil. “I kept asking the same thing, like, what actually went wrong and I never landed anywhere.”

“Some days I thought it was you. Some days I thought it was me. Most days, I just thought we missed something — like there was a moment we were supposed to understand each other but we just didn’t.”

Alexa memalingkan wajah saat menyadari kedua matanya mulai memanas. Ada perasaan sesak lain yang naik ketika dia akhirnya tahu Kiandra juga menanyakan hal yang sama selama ini.

Dan entah kenapa, itu tidak membuatnya lega tapi malah sebaliknya. Karena Kiandra mengatakannya dengan tenang. Terlalu tenang. Seolah semua itu sudah dia lewati sendiri, dipikirkan sampai habis, lalu disimpan rapi dan baru dibuka sekarang.

“I didn’t think it was enough to end everything, not at the time, but I still let it end.” Kiandra masih melanjutkan. “I kept telling myself it made sense, that if it ended, there had to be a reason.”

“But it never felt like one,” sahut Alexa pelan.

Kiandra mengangguk dengan senyuman tipis. “And I think that’s why I texted you.”

“Not because I know what to do with it now, or because I think this fixes anything. I just — ”

Alexa menoleh kembali. Kiandra masih menatapnya, namun kali ini laki-laki itu tampak sedang berpikir. Seakan mencari kalimat yang tepat untuk melengkapi ucapannya.

“I just didn’t like it ended without understanding it,” lanjutnya setelah beberapa saat. “And I don’t think you did either.”

“You think very clinically about it.”

“Not clinically.”

“Then what?”

“Late.”

Alexa mengerutkan kening. “Late?”

“With feelings. I usually understand them after they’ve already cost me something.”

Seketika semua hal di sekitar Alexa berubah buram. Entah kenapa jawaban Kiandra membuat semuanya masuk akal sekarang. Laki-laki itu tidak pernah menemuinya di waktu yang sama. Dulu Kiandra selalu ada di sebelahnya, tapi Alexa merasa sulit mengingat hal itu sekarang. Because while she was bleeding in real time, he was processing two days later.

Alexa menarik napas pelan, tapi dadanya tetap terasa sempit. Selama ini dia pikir Kiandra tidak cukup peduli, atau tidak cukup dalam merasakan semua itu. Tapi ternyata Kiandra hanya tidak pernah berada di detik yang sama.

Selama ini dia menunggu Kiandra untuk datang lebih dekat, memberi sinyal agar dimengerti tanpa harus meminta. Dia berharap Kiandra menyadari sebelum dia harus menjelaskan, melihat sebelum dia harus menunjukkan. Tapi laki-laki itu selalu datang setelah semuanya lewat, setelah dia diam, setelah dia mulai menjauh.

Dan entah kenapa, itu malah membuatnya marah. “So that’s it? That’s your explanation? You were just emotionally delayed and we all have to respect the timeline?”

“I didn’t say that.” Kiandra menjawab tenang.

“But that’s what it sounds like. It sounds convenient.”

Kiandra terdiam sebentar. “I’m telling you now because I understand it now.”

Alexa tertawa kecil. Tajam. “Exactly.”

“You always understand it later,” lanjut Alexa. “You always have something clear to say after everything already hurts.”

Kiandra mengerutkan kening. “And what about you?”

“What about me?”

“You never said what you needed. You’d go quiet. You’d say ‘it’s fine’ when it wasn’t. You’d pull away and expected me know exactly why.”

“I shouldn’t have to say it.”

“You expected me to read silences, moods, half-sentences? I’m not built like that.”

Nada suara Alexa naik. “I was trying not to beg for basic care.”

“And I was trying to understand what changed overnight.”

“It didn’t happen overnight.”

“I know that now.”

“Exactly.” Alexa melepaskan tawa kecil. “Now.”

Kiandra terdiam beberapa saat, lalu mengangguk. Menerima itu tanpa membela diri. Namun melihat itu, kedua mata Alexa malah memanas. Rasanya dia kembali melihat Kiandra yang dulu selalu meredakan setiap pertengkaran kecil mereka dengan diam, dengan mengalah lebih dulu, dengan membiarkan dirinya tampak sebagai satu-satunya orang yang terlalu emosional. Dulu itu membuat Alexa luluh. Sekarang, rasanya justru seperti luka lama yang dibuka lagi.

Karena bahkan malam ini pun, hanya Alexa yang terlihat berantakan. Sementara Kiandra masih tampak utuh.

Alexa memalingkan wajahnya. “Don’t.”

“Don’t what?” Kiandra sedikit mengernyit.

“Don’t make me feel like I’m doing this alone again.”

Kiandra terdiam. Menatap Alexa yang tengah berusaha menenangkan dirinya agar tidak menangis di depan laki-laki itu.

“I hate that you can stay this calm.”

“I’m not calm.”

“That’s how you look.”

“It’s not the same thing.”

Alexa tertawa kecil. Menertawakan Kiandra yang lagi-lagi memiliki kalimat yang tepat setelah terlambat.

Perempuan itu menunduk, mengusap cepat sudut matanya, kesal karena air mata pertama sudah jatuh. Tidak. Bukan sekarang. Bukan di depan Kiandra lagi. Tapi semakin Alexa menahannya, semakin sesak dadanya.

Setahun mencoba terlihat baik-baik saja. Semua rasa yang tadi sempat tertata, kembali berantakan hanya karena laki-laki itu duduk di hadapannya dan masih tahu cara membuat semuanya terasa lebih dekat.

“Alexa.” Kiandra memanggilnya pelan. Nadanya seakan berusaha menenangkan perempuan itu untuk tidak menangis.

Namun yang ada, itu malah semakin menghancurkan pertahanannya. Menyadarkan Alexa betapa dia merindukan cara Kiandra menyebut namanya sampai mendengarnya lagi sekarang — pelan, rendah, seolah laki-laki itu menggenggamnya erat seperti dulu.

Alexa langsung menutup wajahnya. Tangisnya pecah.

“Hey.” Kiandra bergerak pelan dari kursinya. Mendekati Alexa dengan hati-hati, seolah takut akan membuatnya menjauh.

Alexa menggeleng di balik tangannya, namun tidak menyuruh Kiandra untuk berhenti. Membiarkan laki-laki itu menyentuh pergelangan tangannya. Dan selama beberapa saat, tangan Kiandra tetap di sana. Seakan menunggu untuk melihat apakah Alexa akan menarik diri.

Setelah yakin Alexa membiarkannya, Kiandra menurunkan tangan perempuan itu dari wajahnya sedikit demi sedikit.

Matanya merah. Pipinya basah.

Kiandra menatapnya dengan tatapan seolah Alexa adalah pemandangan yang terlalu lama dirindukan. Lalu perlahan ibu jari laki-laki itu bergerak, menghapus air mata Alexa yang kembali jatuh. Gerakannya terlalu lembut, terlalu familiar hingga Alexa lagi-lagi terisak.

“Don’t do that,” lirih perempuan itu.

“Do what?”

“Be gentle.”

Ibu jari Kiandra sempat berhenti sesaat. “I don’t know how to be anything else with you.”

Abrams Cedar Gracie remind sery
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp Email
kirklandc008@gmail.com
  • Website

Related Posts

The moment I knew: Out of the blue, he said he’d never wanted children but would have a baby with me | Dating

May 30, 2026

Blind date: ‘Most awkward moment? When he said his dad set up the date for him’ | Dating

May 30, 2026

Every ‘Love Island USA’ Couple Still Together After The Show

May 28, 2026

You be the judge: should my girlfriend stop trying to make our lives plastic-free? | Life and style

May 28, 2026

Marissa George On Her ‘Perfect Match’ Breakup With DeMari Davis

May 27, 2026

‘Excuse me, can I have my rug back?’ The agony of losing your furniture as well as your soulmate | Relationships

May 27, 2026
Add A Comment
Leave A Reply Cancel Reply

Don't Miss

The moment I knew: Out of the blue, he said he’d never wanted children but would have a baby with me | Dating

By kirklandc008@gmail.comMay 30, 2026

In 2003 I was in my early 30s, working for Andrew Lloyd Webber’s company The…

After HC intervention, Prayagraj ADM clears Muslim man’s conversion application

May 30, 2026

Prayagraj cold storage collapse case: Former SP MLA’s son gets bail

May 30, 2026

Kolkata Police to upgrade riot-control gear, forms panel to assess equipment quality

May 30, 2026
Stay In Touch
  • Facebook
  • Twitter
  • Pinterest
  • Instagram
  • YouTube
  • Vimeo
Our Picks

The moment I knew: Out of the blue, he said he’d never wanted children but would have a baby with me | Dating

May 30, 2026

After HC intervention, Prayagraj ADM clears Muslim man’s conversion application

May 30, 2026

Prayagraj cold storage collapse case: Former SP MLA’s son gets bail

May 30, 2026

Kolkata Police to upgrade riot-control gear, forms panel to assess equipment quality

May 30, 2026

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

About Us

Welcome to tisitwas, your trusted space for honest, heartfelt, and empowering relationship advice. Whether you're healing from a breakup, dealing with arguments, or searching for the one, we're here to walk with you every step of the way.

Our Picks

The moment I knew: Out of the blue, he said he’d never wanted children but would have a baby with me | Dating

May 30, 2026

After HC intervention, Prayagraj ADM clears Muslim man’s conversion application

May 30, 2026
Recent Posts
  • The moment I knew: Out of the blue, he said he’d never wanted children but would have a baby with me | Dating
  • After HC intervention, Prayagraj ADM clears Muslim man’s conversion application
  • Prayagraj cold storage collapse case: Former SP MLA’s son gets bail
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
  • About Us
  • Get In Touch
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Terms and Conditions
© 2026 [Websie]. Designed by Pro.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.