Sejujurnya, aku tak lagi tahu ke mana angin ini membawaku untuk tetap bertahan. Terkadang aku dibuat bertahan dengan harapan-harapan yang masih masuk akal untuk diperjuangkan. Namun terkadang juga aku dibuat menyerah seolah semua waktu dan tenaga untuk mengusahakan ini semua akan berakhir sia-sia.
Tenagaku habis. Sedikit demi sedikit terkuras, hingga akhirnya tak lagi tersisa apa-apa. Rasanya seperti mayat yang dipaksa tetap berdiri. Tidak hidup, tetapi juga tak pernah benar-benar diizinkan mati. Entah berapa kali aku menyebutkan soal kematian dan hal semacamnya di tulisan ini. Aku hanya sedang menuliskan apa yang tak pernah berhasil keluar dari kepala dan hatiku. Yang tentunya tidak dapat aku sampaikan kepadamu.
Banyak yang ingin aku katakan, tetapi semua seolah tidak sampai ke kerongkongan. Semuanya hanya tertahan. Menumpuk di kepala yang semakin hari semakin berat, hingga rasa sakit pun menjadi hal yang biasa.
Aku rindu rasa aman itu.
Rasa yang membuat setiap perdebatan selalu memiliki jalan pulang. Rasa yang membuat kita sama-sama percaya bahwa tak ada satu pun dari kita yang sedang berusaha saling mengalahkan.
Aku rindu saat ketakutan terbesar kita hanyalah jarak.
Saat hubungan ini hanya berisi aku dan kamu. Saat kita sama-sama sulit memejamkan mata karena tak ingin membiarkan satu sama lain tidur dalam keadaan marah. Saat isi hati masih bisa sampai tanpa harus diterjemahkan menjadi pertengkaran. Saat harga diri tak dijadikan senjata, dan ego tak lagi berlomba untuk menang. Saat pelukan masih terasa seperti rumah, bukan seperti memeluk duri yang perlahan membuat salah satu dari kita kehabisan darah.
Entah sejak kapan itu semua perlahan memudar, lalu esok demi esok menghilang. Luruh begitu saja. Entah salahku atau salahmu yang lebih dulu menghancurkan rasa aman dan nyaman yang dulu selalu kita berikan satu sama lain. Entah siapa yang lebih banyak memberikan luka. Entah kapan ego kita tumbuh lebih besar daripada keinginan untuk saling memahami dan lupa bagaimana cara merawat hubungan yang dulunya sangat kita perjuangkan.
Sampai pada akhirnya, semua ini bukan tentang kita. Tetapi tentang diri masing-masing. Bagaimana cara menyatukannya kembali? Dengan hubungan yang sudah bertahan 7 tahun ini.
Hari ini kita saling mencintai. Besok salah satu dari kita melukai. Lusa yang satu mengejar. Beberapa hari kemudian kita kembali tertawa, seolah tak pernah terjadi apa-apa. Lalu semuanya terulang. Lagi. Dan lagi. Sampai akhirnya aku tak lagi tahu… apakah kita sedang mempertahankan hubungan ini, atau hanya mempertahankan siklusnya.
Rasanya hampa.
Aku tak lagi membutuhkan kupu-kupu di perutku. Barangkali perasaan itu memang hanya milik mereka yang sedang jatuh cinta. Sedangkan aku… aku hanya ingin pulang. Pulang pada seseorang yang membuatku merasa aman. Pulang pada hubungan yang tak lagi mengharuskanku berjaga setiap saat. Karena pada akhirnya, cinta yang paling lama bertahan bukanlah yang membuat jantung berdebar. Melainkan yang membuatmu merasa…
“Aku sudah sampai di rumah.”
Karena pada akhirnya, rumah bukanlah tempat. Rumah adalah seseorang yang membuatmu berhenti merasa takut.