Kami sudah selesai.
Setidaknya begitulah seharusnya.
Kami sudah membicarakan apa yang perlu dibicarakan. Dia sudah meminta maaf. Aku sudah mengatakan hal-hal yang selama ini kusimpan, atau setidaknya sebagian dari hal-hal itu. Tidak ada lagi percakapan yang tertunda. Secara logika, semuanya sudah selesai.
Namun rupanya, perasaan tidak pernah benar-benar patuh pada logika.
Ada hal-hal yang bisa berakhir dalam satu percakapan, tetapi membutuhkan waktu yang jauh lebih panjang untuk benar-benar pergi dari dalam diri seseorang.
Terkadang, kita tahu bahwa sebuah pintu memang harus ditutup. Namun, ada bagian dari dalam diri kita yang masih tertinggal di baliknya, berharap seseorang di luar sana akan membukanya kembali.
Mungkin, aku masih berdiri di sana.
Kami tidak memiliki sejarah yang panjang. Tidak ada bertahun-tahun yang bisa dijadikan alasan mengapa kehilangan ini terasa begitu berat. Hanya beberapa bulan, atau mungkin delapan bulan. Tergantung dari mana seseorang memilih untuk mulai menghitung.
Namun, bagaimanapun cara menghitungnya, beberapa bulan tetaplah waktu. Cukup panjang untuk membuat seseorang masuk ke dalam kebiasaan sehari-hari.
Cukup panjang untuk membuat namanya menjadi salah satu nama pertama yang ingin kucari ketika ada sesuatu yang ingin kuceritakan. Dan mungkin, justru karena sudah menjadi biasa, ketidakhadirannya terasa begitu asing.
Ada seseorang yang sebelumnya aku cari kapan saja, lalu tiba-tiba menjadi seseorang yang harus aku latih untuk tidak kucari lagi. Mungkin itu yang sedang kutangisi.
Kemungkinan-kemungkinan yang tidak pernah sempat menjadi kenyataan, dan harapan-harapan kecil yang selama ini diam-diam masih kusimpan meskipun sudah lama tidak punya tempat untuk tumbuh.
Barangkali, aku sedang berduka atas sesuatu yang bahkan tidak benar-benar sempat menjadi apa-apa. Barangkali, itulah sebabnya semuanya begitu sulit dijelaskan. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya kumaksud ketika mengatakan bahwa aku merindukannya.
Apakah aku merindukan dia?
Atau aku merindukan percakapan kami?
Atau aku tidak merindukan apa yang benar-benar pernah kami miliki. Mungkin aku merindukan sesuatu yang selama ini hanya hidup dalam harapan.
Sebab sesuatu yang pernah terjadi memiliki akhir. Sementara sesuatu yang tidak pernah sempat terjadi selalu menyisakan kemungkinan.
Seandainya.
Mungkin, itu yang membuatnya sulit untuk dilepaskan.
