Bagaimana jika ternyata yang selama ini kita cintai hanyalah tokoh fiksi yang kebetulan terproyeksi dalam diri seseorang?
Hariku pernah sangat berbunga-bunga, menanti seseorang, melihatnya dari belakang, sangat gembira melihatnya tersenyum atau tertawa. Rasanya seolah dunia hanya berputar pada dia, dia, dan dia saja. Ironisnya, kebahagiaan ini terasa sangat semu dan menyakitkan di kemudian hari. Kenapa? Kenapa hanya aku yang merasa demikian? Apa dia juga melihatku demikian? Apa sekali saja dia merasa penting untuk mengecek bayanganku.
Entahlah, tidak ada jawaban sebab apa yang di dalam hati orang lain bukanlah kuasa kita. Hal yang sama untuk kebahagiaan ini. Dewasa ini kusadari bahwa rasa suka yang kita miliki adalah tanggung jawab kita, hanya kita, dan kurasa itu juga hak kita untuk bebas jatuh hati pada siapapun.
Tapi, apakah benar kita jatuh hati karena orangnya? atau hanya karena dia sangat ideal dengan fantasi kita?
Barangkali jawabannya adalah yang kedua. Kurasa sebagai perempuan yang sering mengonsumsi cerita romansa, kita jadi punya banyak sekali daftar cerita romansa. Lalu mungkin di dunia nyata kita mencari, siapa ya yang cocok memerankan ini? layaknya seleksi pemain drama. Dan di sinilah semuanya dimulai. Aku memberinya sebuah peran yang sangat penting keberadaannya, sangat besar maknanya, kubuat dia jadi tokoh utama, padahal dia tidak pernah melamar “posisi” ini.
Cerita romansaku, kubuat sangat indah melebihi legenda cinta yang pernah ada dengan akhir bahagia. Dia kujadikan tokoh utamanya. Sejak itu aku tak pernah melihatnya secara orisinal, dia selalu jadi seseorang dengan tambahan karakter yang kubumbui sendiri. Lalu dengan begitu banyaknya makna yang kusematkan, dia jadi begitu penting hingga mulanya sulit kutanggalkan. Dia jadi sangat berpengaruh bertahun-tahun lamanya. Hingga cerita yang pada kenyataannya tidak berakhir bahagia itu lambat laun memberikan kesadaran baru dari sebuah pertanyaan kecil:
Jika dia sebenarnya tidak berbuat apapun, lantas apa yang sebenarnya sedang kita cintai?
Rupanya memang diri kita yang penuh cinta, hingga rasanya setiap ruang kosong harus diisi cinta. Seperempat mungkin berasal dari dia, tapi sisanya tumbuh dari cerita yang tanpa sadar kita rangkai sendiri. Dan lega rasanya menyadari hal tersebut. Diam-diam dada yang sesak kembali menghirup udara segar, rantai yang menjerat kita dan dirinya perlahan terlepas, dan setiap langkah kita kembali ringan.
