True love is not based on any standard other than the acceptance of the heart.
In my opinion, bare minimum atau efforts untuk cinta adalah subjektif. Bare minimum mencakup hal-hal mendasar yang seharusnya wajar dilakukan seseorang untuk mempertahankan hubungan, sedangkan efforts adalah bentuk dari kepedulian atau usaha seseorang demi mempertahankan dan membahagiakan pasangan. Tetapi keduanya tidak dapat digeneralisir. Bagi beberapa orang, bare minimum adalah efforts. Ketika kita terlalu sibuk memberi label dan menuntut pemenuhan standar yang kaku, kita lupa bahwa cinta seharusnya menjadi ruang aman, bukan medan ujian. Cinta yang menyenangkan adalah cinta yang membebaskan kita untuk tulus, tanpa dibayangi ketakutan apakah usaha kita sudah memenuhi ‘standar pasar’ atau belum.
Saya kira konsep dari bare minimum dan effort sudah mengalami pergeseran makna yang justru menjadi kontraproduktif bagi hubungan. Rasanya cinta yang seharusnya tulus berubah menjadi sebuah hubungan yang transaksional. Seseorang tidak lagi melakukan sesuatu murni karena ingin memberikan rasa bahagia untuk pasangannya melainkan karena terjebak pada standar yang ada, seseorang menuntut pasangannya untuk memberikan rasa puas terhadap standar yang ia tetapkan dan menganggap buruk jika pasangannya tidak mampu memenuhi standarnya. Saya berpikir, perlahan cinta kehilangan esensinya.
Cinta itu seharusnya menyenangkan, bertumbuh bersama, belajar bersama, dan menjadi ruang aman untuk menjadi diri sendiri, tempat dimana kita dapat diterima dan menerima. Sedih rasanya apabila kehilangan rasa bahagia yang sederhana itu, standar yang seragam ini mengabaikan kapasitas, bahasa cinta (love language), dan kondisi nyata setiap individu. Ketika seseorang dipaksa memakai sepatu yang ukurannya tidak pas, tentu jalannya pasti tersiksa. Begitu juga dalam cinta yang dipaksakan mengikuti standar orang lain.
Kemudian saya berpikir pula, bahwa seharusnya cinta itu didefinisikan oleh dua orang yang menjalaninya, bukan oleh algoritma sosial media. Setiap pasangan punya kapasitas, situasi hidup, dan bahasa cintanya masing-masing. Cinta yang ideal adalah ketika dua orang saling sepakat, “Ini cara kita saling menyayangi,”. Bukankah seharusnya seperti itu ya??
Pada akhirnya, membebaskan cinta dari belenggu ‘standar pasar’ bukan berarti kita menurunkan nilai diri. Ini tentang mengembalikan cinta ke hakikatnya yang paling murni: sebuah ruang aman di mana dua manusia memilih untuk saling menerima, bertumbuh, dan berjuang dengan cara unik mereka sendiri.
Makna cinta yang berbeda-beda itu membuat saya tertarik untuk mengetahui bagaimana pendapat orang lain tentang tulisan ini? Bagaimana cinta menurut kalian?? Apa pendapat kalian terkait standar semacam itu??