Part 1 — New Moon.
Malam ini, 5 Juli 2026 aku menatap layar ponselku dalam diam. Di sana, di sebuah siaran langsung aku melihat wajahnya, J. Dia sedang berada di sebuah tempat bersiap untuk melangkah jauh mengejar mimpinya ke luar negeri. Detik itu juga tanpa bisa kutahan, ada sesuatu yang hangat menetes di pipiku.
Aku menangis. Bukan karena benci, tapi karena perasaan haru yang aneh.
Anak laki-laki yang dulu bersamaku selama 6 bulan, yang kutemani sejak hari pertama dia masuk praktik kerja lapangan hingga selesai, kini sudah tumbuh sedewasa itu. Dulu, dalam kecewaku yang mendalam pasca hari yang dingin itu, aku sempat berdoa egois agar roda berputar, agar dia merasakan sakit yang sama. Namun melihatnya hari ini baik-baik saja, melihatnya melangkah maju, hatiku justru berbisik hal yang berbeda, “Aku ikut senang, J”.
Pikiran itu membawaku mundur jauh ke belakang. Ke masa di mana semuanya belum sekompleks dan sejarang ini. Ke masa di mana kami sempat berpapasan empat kali di dekat area SMA-ku dahulu belakangan ini, sekali di bawah terik siang, sekali di antara jingga sore, dan dua kali di kegelapan malam, di mana aku selalu memilih untuk membuang muka karena takut rasaku meledak lagi.
Beberapa bulan yang lalu, sebuah notifikasi singkat darinya bertuliskan “Happy Birthday” sempat membuat duniaku berhenti berputar sejenak. Dia masih peduli.
Semua kedewasaan, rasa sesak, dan rindu yang canggung ini membuatku tersadar satu hal. Kami mungkin sudah berjalan di jalur masing masing, berpapasan tanpa saling sapa. Namun malam ini, entah di belahan bumi mana ia berada nanti, kami tetap bernaung under the same moon, di bawah bulan yang sama.
