Musim panas belum tiba, andai saja aku bisa mengendalikan cuaca, ada beberapa hal yang aku ingin dapatkan dan diubah, menghendakinya.
Urusan hati, katanya tidak ada yang tahu pasti kapan benar-benar darisana, kita berhenti. Jatuh cinta, salah satunya. Secara personal, melihat perkara romansa bisa diatur seperti ada saklar on-off. Seharusnya berbekal pengalaman, aku mulai pandai menjaga diri, kepada siapa sebaiknya perasaan menentukan pujangga miliknya.
Sesuatu yang manis, tidak hanya gula. Ketika bersama teman mengunjungi tempat-tempat kuliner, kedai kopi khususnya, aku ingin memesan air putih dengan es batu, mendinginkan kepalaku. Tetapi tetap saja, yang kucicip pada akhirnya secangkir americano, pahit serupa harapan yang dipatahkan.
Tidak semestinya, aku merogoh saku demi sesuatu yang sebenarnya aku tidak mau. Memberikan ketulusan yang kutahu dibalas pengkhianatan atau perilaku yang mencerminkan ketidakadilan dalam hubungan. Aku berharap, tidak melulu di ujungnya, diri sendiri kutunjuk untuk disalahkan.
Teman-temanku baik, mengajakku bertemu dan bercakap demi menjalin lebih lama pertemanan. Bergurau, bermain, bersenang-senang setiap hari, hampir. Siapapun boleh menafsir aktivitas, tak ayal aku sama halnya demikian. Sebab darisana, aku tidak sekadar meluangkan waktu melakukan yang percuma, menyisihkan prioritas, tetapi untukku ada kehangatan dalam berbagi komunikasi terhadap sesama.
Sejujurnya, berapa banyak kebohongan dariku dengan alibi aku tidak menginginkan sesuatu? dan mereka hanya tahu, bahwa aku tetap baik-baik saja, menyetujui.
Teman dengan perasaan dibaliknya, aku sedang membicarakan konteks yang berbeda dari pertemanan dalam kalimat-kalimat sebelum ini. Aku haus akan kehangatan, mungkin itulah kenapa sebabnya aku lebih suka teh tawar di semua musim sebagai teman berpikir.
Aku pergi merepotkan diriku sendiri, bersama semua kesibukan. Ada perbedaan dimana semua orang memang harus memiliki fokus masa depan, dengan pelarian dari putus asa terhadap doa-doa yang disimpan.
Kepadamu, kamu, kamu dan kamu, yang aku mempertaruhkan banyak pengorbanan demi terwujudnya lebih lama kebersamaan.
Teman seperjuangan tidak aku berikan kehangatan yang sama bentuknya. Tidak ada senyum dengan maksud, tidak ada perhatian dengan khusus, tidak ada tatapan dengan kedalaman yang sungguh-sungguh, tidak ada aku panjatkan hingga kupaksa dilangitkan ketulusan dan janji kesetiaan.
Aku muak. Aku mau beristirahat dari mencintai seseorang.
Mustahil, katanya. Tidak sejalan, ujarnya. Tidak ada selanjutnya, kiranya.
Aku menyerah memperjuangkan, aku bukan lagi pendekar yang mendeklarasikan romantisme yang manis, aku bukan pujangga.
Aku sepakat, memilih semua kegilaan dengan kerja-kerja yang entah apa…
Barangkali aku mengambil cuti atau pensiun sejak dini, dan memutuskan secepatnya beranjak lupa, romansa.
Aku titipkan, aku tinggalkan apa-apa yang pernah kupertaruhkan. Waktu, kepedulian, kasih sayang, dan semuanya.
Selamat menjalankan hari-hari tanpa seseorang yang dicintai, didalamnya.