Saya ingin mencintai diri saya sebagai perempuan yang penuh luka dan penderitaan.
Beberapa waktu lalu saya menghadiri dua talkshow sekaligus, pembahasannya tidak lepas dari topik perempuan. saya tidak mengharapkan apa pun dari talkshow ini intinya saya hanya ingin hadir saja, minimal saya dapat teman baru. Dari dua talkshow yang saya datangi belum ada insight baru yang saya dapat, bukan bermaksud meremehkan tapi apa yang disampaikan sudah saya tahu sejak lama. Malah terkesan seperti pengulangan cerita. Yang membedakan barangkali hanya budaya mereka saja lantaran saya bukan berasal dari daerah tersebut.
Bisa saya simpulkan, talkshow itu hanya mengaris bawahi betapa sulitnya hidup sebagai perempuan.
Saya mulai bosan, lelah dan mulai merenung. Memikirkan perjalanan saya, hidup saya sebagai perempuan. Tidak ada enaknya jadi perempuan, pikir saya.
Saya selalu bertanya pada diri, apa yang menyenangkan menjadi perempuan? Terlalu banyak peraturan, terlalu banyak larangan, tidak bisa memilih jalan hidup sendiri, sekalipun berada dalam kondisi sulit sekalipun kita juga yang kena imbas pertama kali. Menyedihkan sekali.
“Perempuan itu tidak punya waktu untuk jadi dirinya, mereka lahir jadi anak, menikah kemudian menjadi istri dan ibu. Hidupnya hanya berkutat di sana saja. Kapan mereka menikmati hidup sebagai perempuan.” Jelas pembicara yang juga seorang perempuan.
Saya tidak tahu apa yang dimaksud menikmati hidup sebagai perempuan. Apakah menikmati hidup sebagai perempuan adalah dengan melajang seperti saya? Apakah dengan pergi ke mana pun seorang diri? Yang mampu melakukan apa pun seorang diri? Menikmati penderitaan ini? Menikmati luka yang tergores di tubuh? Saya merenungi cukup lama selama berjalan kaki keluar dari gedung, menikmati langit biru dan pepohonan.
“Bumi ini indah ya seperti perempuan.” Saya rasa itulah jawabannya.
Hidup sebagai perempuan dengan segala beban yang dipikul, dengan stigma atau label yang terus melekat dalam diri tidaklah mudah untuk diterima tapi dengan itu semua saya ingin mencintai diri saya, mencintai tubuh feminim dan hati yang lembut ini. Saya rasa itulah arti menikmati hidup sebagai perempuan.
Menikmati hidup sebagai perempuan adalah dengan mencintai dan menerima diri.
Saya bukan mengatakan kita harus menerima segala bentuk diskriminasi, pelecehan dan perilaku tidak mengenakkan lainnya dari masyarakat. Menikmati hidup sebagai perempuan bagi saya adalah mencintai diri, mengenal diri, tahu apa yang kita inginkan dan butuh dalam hidup ini.
Jikalau sudah memiliki luka bukankah kita harus merawatnya? Merawatnya hingga sembuh. Walau saya tahu dengan pasti dunia ini tidak ramah bagi perempuan. Akan ada luka yang tergores entah di tubuh atau hatinya. Lambat laun luka itu akan sembuh, mengering dan indah pada waktunya.
Untuk sekarang ini — bagi saya, tidak peduli kau lajang atau sudah menikah, menikmati hidup sebagai perempuan ketika kau sadar akan apa yang kau miliki dan siapa dirimu. Dengan begitu kau bisa menikmati hidup, walau terkadang menyedihkan jika harus membandingkan diri dengan perempuan lain.
“Dia jauh lebih cantik.”
“Dia lebih bahagia dari siapa pun.”
Terkadang kita tidak menyadari ‘privilege: yang kita miliki, sekecil apa pun, itu tetap ‘privilege’
Menjadi perempuan saya rasa juga privilege, kita indah dan berhati lembut. Sekalipun kita terluka goresan tersebut tetaplah indah.
Ya, pada akhirnya saya tidak merasa rugi menghadiri talkshow tersebut.
Tiba-tiba saya rindu ibu.
