Malam itu, aku memutuskan pulang kantor lebih cepat dari biasanya. Ada seseorang yang harus kutemui. Meskipun aku tahu ke mana arah pembicaraan ini nantinya, tetap saja, aku tak pernah benar-benar bisa menghindarinya.
Di tengah riuhnya lalu lintas kota, pikiranku terus berputar pada satu pertanyaan: “Keputusan terbaik apa yang harus kuambil?”
Tanpa sadar, aku sudah sampai. Kami duduk berseberangan.
Wajahnya yang lembut, tatanan comma hair-nya, kacamata yang membingkai matanya dengan indah, serta pembawaannya yang selalu tenang dan non-chalant. Aku mencoba menerka apa yang sedang berputar di kepalanya, tapi nihil.
“Sudah dipikirkan?” suaranya memecah hening.
Aku mengangguk perlahan, lalu mulai mengurai keputusan yang sejujurnya telah menyiksaku sepanjang malam.
“Objectively thinking, rasanya sulit untuk kita lanjut. You agree?”
Sungguh sulit untuk melanjutkan kalimat itu tanpa meneteskan air mata.
Perbincangan berlanjut dengan begitu tenang, seakan memastikan tidak ada rasa ganjal yang tertinggal. Sebuah momen perpisahan yang kedatangannya tak pernah kubayangkan.
Dia adalah orang yang pernah menjadi alasan bagiku untuk tetap bertahan hidup . Sosoknya yang menarikku keluar dari masa-masa tergelap. Rasanya masih banyak hal dan kebaikan yang belum sempat kubalaskan padanya.
Untuk terakhir kalinya, kami bergandengan tangan sepulang dari pembicaraan dewasa itu. Di sepanjang jalan, kami saling menumpahkan apa yang selama ini mengendap di dalam dada.
“My life was fun with you. I hope you live well. Jangan pernah balik lagi ke masa-masa suram itu, kamu harus hidup dengan baik,” ucapnya.
“I was at peace with you. I feel like I owe you my life. Until the end of time, I’ll always remember that you are the reason I am still standing here today,” balasku.
Ada keindahan yang getir dari cara kami melepaskan satu sama lain. Our last conversation, our last handhold, our last dinner, and our last hug. We cried because we knew that forcing it would only keep us spiraling in the same loop of pain.
Saat menulis ini pun, aku masih menangis mengingat semuanya. Betapa mudahnya hidup bersamamu. Our endless quests, our plans, our favorite songs, the inside jokes, and all of them. How do I just leave it behind?
But if holding on means losing myself, and if keeping this going means you have to constantly walk on eggshells… what is the point?
Kita pernah menjadi sesuatu indah bersama. Kamu pernah menjadi alasanku bernafas hingga saat ini dan aku memberikan warna baru di hidupmu. Tapi pada akhirnya, cara hidup kita memang tak lagi searah.
A Letter to You:
In this moment, my feelings for you haven’t faded at all. But I am choosing to hold myself to finally learn how to feel complete on my own.
As for you, live freely and well. Stop walking on eggshells for anyone else. You deserve to breathe easy. I pray to God that we can navigate this with grace and peace, without an ounce of resentment, guiding us both toward our own best paths.
Every time I breathe in the air today, I will always remember that this breath exists because you once held my hand through my darkest hours. I don’t need to say it out loud, because my very existence today is proof of how deeply you mattered to me. Forever, you hold the most honored place in my life, Kak.