Niki bilang, “cause you’ll be in my heart”
mungkin kalimat itulah yang terus berputar dalam pikiranku saat menyadari hilangnya kontak di antara kita. whatsapp yang berubah menjadi “undang”, hilangnya profile instagrammu, dan “keluar dari grup” pemberitahuan yang kudapat dari grup angkatan kita. aku tak tau apa yang terjadi, atau apa yang berada dalam alam benakmu saat itu.
aku tidaklah menjadi bagian yang penting selama masa sekolah menengah atas. aku menyadari memang tidak banyak interaksi yang terjadi selama tiga tahun itu. bukan karena tidak ada upaya, tapi memang takdirnya justru terlihat menjauhkan jarak yang ada.
percakapan singkat yang terjadi di hari terakhir sekolah seolah menjadi penutup dari cerita dan bersiap menjadi kenangan berdebu. saat itu tidak banyak yang bisa disampaikan, atau mungkin diungkapkan?. entahlah, setelah sekian lama tidak berinteraksi, perasaaan ragu, cemas, dan takut tiba-tiba menggerogoti hati. tidak ada keberanian untuk mengungkapkan sampai jumpa, atau, selamat tinggal.
setelah menyadari tidak ada lagi jalan yang kau buka, pun setelah berupaya mencari tau bagaimana harimu lewat postingan teman-temanmu, aku menyadari mungkin sudah saatnya aku menutup kesempatan harapan adanya kebersamaan yang terikat di antara kita. hari-hari setelahnya seringkali diiringi musik tenang, “mau tenang, biar nggak kepikiran dia lagi” pikirku saat itu. apakah berhasil? ya, sedikit. selebihnya, hati yang berupaya keras menutup pintu, pikiran yang sekuat tenaga menghapus kenangan, dan do’a yang tidak lagi ada namamu.
hari berganti hari, minggu terus berjalan, bulan yang beranjak pergi, dan tahun baru yang terus datang. awalnya aku kira akan mudah untuk melepaskan harapan yang pernah dirangkai indah, tapi ternyata jauh dari kata mudah yang kudapati. hari ini aku melupakannya, esoknya aku berandai dirinya datang kembali. menyapa dengan ramah “hi”.
seringkali hatiku bertanya “bagaimana seandainya jika dia membuka hati untukku?”, tapi hatiku pun langsung menyangkalnya “dia memutuskan kontak, maka tidak akan ada hati yang ia berikan padaku”.
waktu berjalan, aku berhasil melepaskan semua kenangan itu. meskipun terkadang harapan yang dulu ada tiba-tiba muncul. di sore hari ketika langit jingga, di malam hari ketika hendak tidur, dan di pagi hari setelah mendapatkan mimpi indah. namun, kemunculannya tidak lagi menjadi hal yang aku aminkan.
orang bilang akan sulit melupakan kenangan tentang cinta yang pernah kita rasakan saat sekolah menengah. nyatanya, aku pun begitu. butuh waktu bertahun-tahun hingga akhirnya benar-benar bisa melupakan, atau lebih tepatnya, tidak memberikan harapan lagi pada kenangan itu.
hingga kini, setidaknya aku telah berdamai dengan berbagai kenangan, harapan, dan do’a yang pernah aku langitkan. mungkin memang tidak ditakdirkan bersama, untuk masa lalu dan saat ini. bagaimana masa depan? entahlah, biar garis takdir yang mengatur. kini tidak ada lagi hari di mana aku selalu menghadap langit dan memanjatkan harapan. tidak ada lagi sore di mana sebuah senyuman tiba-tiba terukir membayangkan hal indah jika kita dapat bersama. juga, tidak ada lagi harapan yang diaminkan ketika bunga tidur yang indah datang, ketika ada dirimu di dalamnya.
aku menyadari, terputusnya kontak di antara kita mungkin menjadi tanda takdir bahwa tidak selamanya harapan untuk bersama dapat terwujud.
bertahun-tahun tidak berkabar, ternyata tidak seburuk itu.
