But I’d give anything to stop time
And drive around Anaheim at sun down
And teach my mind to put you first
Here you are, a hero
You wanna be my new home
But baby, let up, I won’t ever recognize these roads
’Cause I am lost, but not in you
Yes, I am lost, but not in you
Matahari kini telah tenggelam seutuhnya di balik garis cakrawala, meninggalkan semburat ungu dan magis di langit malam bukit kota. Lampu-lampu jalanan mulai menyala satu per satu, menciptakan ilusi hamparan cahaya yang asing, mirip seperti kota Anaheim yang indah namun tak pernah benar-benar Yudistira kenali rutenya.
Yudistira meremas ujung vest-nya sendiri. “Aku udah coba, Sei. Sumpah, aku udah coba maksa otakku buat taruh kamu di posisi pertama. Aku pengen banget bisa mencintai kamu seutuhnya. Kamu itu penyelamat buat aku, kamu mau jadi rumah baru tempat aku pulang. Tapi… aku gak bisa hafalin jalan di hubungan ini. Aku ngerasa asing.”
Yudistira mendongak, menatap Seishin dengan mata yang mulai berkaca-kaca di balik lensa kacamatanya. “Maaf …. maaf, Sei. I am lost, but not in you. Aku tersesat, tapi bukan karena aku tenggelam dalam cinta kamu. Aku tersesat karena aku kehilangan diriku sendiri di masa lalu.”
Seishin berdiri mematung. Dadanya naik turun, menahan gemuruh rasa sakit yang luar biasa. Rasanya seluruh dunianya runtuh berkeping-keping tepat di hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia untuknya. Dia ingin egois, dia ingin memohon agar Yudistira tetap tinggal dan berjanji akan menyembuhkan luka itu bersama-sama. Tapi melihat gurat kelelahan dan rasa bersalah yang amat besar di wajah manis Yudistira, Seishin tahu bahwa memaksa hanya akan membuat Yudistira semakin menderita.
Seishin mengembuskan napas panjang. Pria tegap itu memejamkan matanya sejenak, membiarkan setitik air mata lolos di sudut matanya sebelum dia buru-buru menghapusnya. Dia melangkah mendekat, lalu dengan gerakan yang teramat lembut, dia melepas kemeja flanel tebalnya dan menyampirkannya ke bahu Yudistira yang mulai menggigil karena angin malam yang makin menusuk.
“Makasih ya, Yudis,” kata Seishin. Suaranya berat, namun terdengar begitu tulus tanpa ada nada amarah sedikit pun.
Yudistira tertegun, menatap kemeja flanel hangat yang kini membungkus tubuhnya. “Sei…?”
“Makasih karena kamu udah mau jujur sama aku,” Seishin memaksakan sebuah senyuman tipis, senyuman paling sedih yang pernah Yudistira lihat. “Dan makasih… udah ngasih aku kesempatan buat jadi pacar kamu selama satu tahun ini. Meskipun akhirnya harus kayak gini, aku bahagia banget, Dis. Bisa ngerasain hidup di dalam dunia yang aku impikan bareng kamu selama setahun ini… itu udah lebih dari cukup buat aku.”
Seishin mengulurkan tangannya, mengusap puncak kepala Yudistira dengan hati-hati, menjaga agar jepit rambut kesayangan pacar — maksudnya, mantan kekasihnya — itu tidak bergeser. Dalam hatinya yang terdalam, Seishin berjanji bahwa dia akan selalu ada untuk Yudistira. Dia akan menunggu, sejauh apa pun Yudistira pergi untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Namun, dia memilih untuk menyimpan janji itu rapat-rapat agar tidak menjadi beban baru bagi Yudistira.
Melihat Yudistira yang masih menatapnya dengan pandangan sendu dan penuh sesal, Seishin berdeham pelan. Dia memasukkan tangannya ke saku celana, mencoba mengubah raut wajahnya menjadi agak jenaka walau hatinya hancur lebur.
“Yaaah… berarti sekarang status kita resmi turun dong ya? Jadi sahabatan lagi bagai kepompong nih?” goda Seishin, menaik-turunkan alisnya demi mencairkan suasana yang terlampau pekat.
Yudistira sejenak terpaku sebelum akhirnya sebuah senyuman sendu yang tulus terukir di wajah manisnya. Sifat perhatian Seishin yang selalu mementingkan perasaannya di atas segalanya benar-benar membuat Yudistira merasa sangat bersyukur. “Kepompong apanya… alay banget.”
“Nah, gitu dong. Kalau udah mulai ketus, berarti Yudis-ku yang bawel udah balik,” Seishin terkekeh pelan, menepuk bahu Yudistira lembut. “Yuk, aku anter pulang. Angin malam gak bagus buat anak kecil kayak kamu. Tugas sahabat barumu ini sekarang adalah memastikan kamu sampai rumah dengan selamat tanpa lecet sedikit pun.”
Yudistira tidak membantah. Dia terkekeh, merapatkan kemeja flanel milik Seishin yang aromanya sangat familier, membawa kehangatan di tengah dinginnya malam bukit. Sambil berjalan beriringan menuju motor, Yudistira memandang langit malam yang kini bertabur bintang.
Dia tahu perjalanannya untuk menyembuhkan diri masih panjang dan penuh ketidakpastian. Entah ke depannya takdir akan membawa mereka ke rute yang sama lagi atau tidak, Yudistira hanya bisa berharap bahwa keputusannya malam ini adalah awal yang baik bagi mereka berdua, terutama bagi Seishin, pria teramat baik yang pantas mendapatkan seluruh hati tanpa ada sisa masa lalu di dalamnya.
