”kamu nggak bakal pernah ngerti aku, myrina. makanya dari awal aku milih buat nggak cerita”
ucap mateo, nadanya datar namun dinginnya sanggup membekukan udara di antara mereka.
myrina tertawa getir, sepasang matanya mulai memanas menahan air mata yang mendesak keluar.
“tapi setelah itu kamu nyalahin aku? kamu kecewa karena aku nggak bisa jadi apa yang kamu ekspektasikan, padahal kamu sama sekali nggak pernah bicara apa pun ke aku! kamu kenapa, mateo?”
malam itu, mereka terjebak dalam labirin ego masing-masing. keduanya saling melempar tuduhan, sama-sama buta terhadap luka yang sebenarnya sedang menganga. myrina hanya ingin menjadi prioritas. sederhana, ia hanya ingin menjadi rumah—tempat mateo pulang, menyesap ketenangan, dan menyandarkan kepala setelah lelah dihantam dunia. namun bagi mateo, isi kepalanya adalah benang kusut yang berbahaya. menyeret myrina masuk ke dalamnya hanya akan memperburuk keadaan dan meruntuhkan mereka berdua.
mateo dengan watak keras kepalanya yang sekokoh karang, dan myrina dengan emosinya yang meluap-luap bak ombak hantaman badai. ketika keduanya bertabrakan, tidak ada yang keluar sebagai pemenang. hanya ada puing-puing hubungan yang hancur.
sampai akhirnya, mateo menghela napas berat. sorot matanya meredup, menyisakan kekosongan yang teramat sangat sebelum kalimat fatal itu lolos dari bibirnya.
”kita… udahan aja.”
dunia myrina seketika hening. detik jantungnya seolah berhenti berdetak. ia tertegun, menatap laki-laki di hadapannya dengan tatapan tidak percaya. kalimat itu terdengar begitu mudah keluar dari mulut mateo, menghancurkan segala waras yang mati-matian myrina pertahankan demi kesehatan jiwanya selama ini.
myrina memejamkan mata sejenak, menelan pahitnya kenyataan yang menghantam telak. ketika matanya kembali terbuka, riak emosi di sana telah digantikan oleh ketegasan yang sunyi.
”aku yakin keputusanmu juga sudah matang, mateo,” bisik myrina, suaranya bergetar namun sarat akan finalitas. “terima kasih. kali ini, aku akan benar-benar menghilang dari hidup kamu. seratus persen.”
tanpa menunggu balasan, myrina membalikkan badan dan melangkah pergi, meninggalkan mateo bersama keheningan yang ia ciptakan sendiri. detik itu juga, semesta seolah mengunci rapat pintu takdir mereka. sejak langkah pertama myrina menjauh, mereka resmi menjadi dua orang asing yang tidak akan pernah dipertemukan lagi oleh kebetulan apa pun kecuali jika garis takdir memang sengaja ingin bercanda.
