“Rasanya lebih buruk dari mimpi buruk, karena kamu terus melanjutkan hari dengan rasa itu. Rasanya ingin mengakhiri sesuatu dalam diri. Namun, bagaimana? Sebab semuanya juga perlahan-lahan berakhir di dalam sini,” ucapmu tiba-tiba saat aku baru sampai.
Kuperhatikan wajahmu. Kulit yang cerah dengan bibir pink pucat, tersenyum pasrah melihatku datang.
Entah ke mana perginya binar matamu yang sore kemarin kulihat nampak sangat berbinar. Tawamu yang lepas saat kita menghabiskan waktu sore hari di taman kota, sawah, dan tempat permainan anak.
“Aku nggak tahu apa yang terjadi dengan dirimu, tapi aku tahu kamu sedang melawan keabsurdan. Sini… duduk, bersandar di sini,” jawabku sambil mengambil tempat duduk di kursi kayu panjang dengan sandaran dinding.
Tatap mata kita bertemu. Kamu mengambil jarak lebih dekat. Mengulurkan jari telunjuk pelan ke bahuku, dan tersenyum.
Kita tersenyum.
Kuraih bahumu yang mendekat lemah ke dalam lenganku.
Wangi manis vanila dan bunga tercium dari puncak rambutmu. Wangi yang senantiasa membuatmu merasa cantik meskipun baru bangun tidur. Hari-hari yang membuatku sadar betapa kau menyayangi rambut hitammu. Panjang dan lurus, sedikit bergelombang di ujungnya dengan warna cokelat gelap bila terkena sinar matahari
Angin di helaian rambutmu, membawa helaiannya melayang pelan disinari matahari, membuat warna cokelat lebih banyak.
Lembut, menggelitik pelan pipiku.
Kita tak bicara, hanya hening yang bercakap antara kita.
Tanpa bicara pun, rasa pahit tertahan di tenggorokanku. Melihatmu sedu sedan mengabur meski dalam pelukku.
Kita tak bersuara.
Namun tatap matamu, menemukanku.
Dengan perlahan, jemarimu yang panjang menyapu pipiku yang basah.
“Harusnya, aku,”ucapku dengan suara serak.
“Tak apa-apa,” Kamu mengeratkan lenganmu di punggungku. Menepuk-nepuk lalu mengelusnya perlahan.
“Aku merasa terobati sedikit.” jawabmu dengan senyuman yang menyungging kecil.
“Tapi jangan sering-sering menangis ya. Tuhan sepertinya sangat menyayangimu..”
“Besok atau lusa, main ayunan, seluncuran atau jungkat-jungkit. Hari ini, tak apa kita sedih dulu,” jawabmu dengan mata sendu berair yang hangat.
“Kok, tiba-tiba Tuhan sangat sayang ke aku?” tanyaku
Kamu menatapku lekat-lekat dengan bingung, “Bukannya aku sudah cerita?
Minggu lalu, waktu kita menunda waktu ke bukit bersama… Seseorang bercerita kepadaku.Dia ke sana dan ternyata mendung hingga maghrib datang. Jadi tak ada sunset untuk kita di hari itu.”
