Tentang bagaimana aku kehilangan kepercayaan bahwa dunia selalu menghargai kerja keras.
Ada satu pertanyaan yang sampai hari ini belum bisa kujawab: Kenapa aku selalu ingin menang?
Bukan menang karena ingin berada di atas orang lain, bukan juga karena haus pujian. Yang kucari sebenarnya selalu sama: perasaan bahwa semua usaha yang kulakukan memang bermakna.
Mungkin semuanya dimulai sejak aku masih kecil, saat aku mempelajari sesuatu yang terdengar sangat sederhana: berusaha lebih keras berarti hasilnya akan lebih baik. Logika itu terus tertanam di kepalaku. Aku tumbuh dengan menikmati kompetisi. Aku senang berada di lingkungan yang saling mendorong untuk berkembang; ketika nilai dibandingkan, kemampuan diuji, dan pencapaian dirayakan. Bagiku, itu bukan tekanan. Justru di sanalah aku merasa benar-benar hidup.
Lagipula, kompetisi terasa adil. Jika aku belajar lebih lama, hasilku lebih baik. Jika aku berlatih lebih keras, peluangku lebih besar. Dunia terasa begitu masuk akal.
Sampai suatu hari, aku menyadari bahwa hidup ternyata tidak selalu mengikuti logika itu. Untuk pertama kalinya, aku melihat ada orang yang sampai di tujuan bukan karena usahanya, melainkan melalui jalan pintas yang tidak dimiliki semua orang. Ada sistem yang bisa dibengkokkan, ada aturan yang bisa dinegosiasikan, dan ada orang-orang yang bahkan bangga menceritakan bagaimana mereka menang dengan cara yang tidak pernah benar-benar jujur.
Yang mengejutkanku bukan fakta bahwa kecurangan itu ada, melainkan betapa cepatnya aku kehilangan kepercayaan pada sesuatu yang selama ini kuanggap pasti. Aku tidak marah karena kalah. Aku marah karena mulai ragu apakah kerja keras benar-benar masih punya arti.
Kupikir pengalaman itu hanya akan terjadi sekali. Ternyata, hidup cukup kreatif untuk mengulang pelajaran yang sama dengan cara yang berbeda.
Ketika aku mulai mengejar sekolah impian, sistem berubah. Ketika aku mengejar jurusan impian, kenyataan kembali membuktikan bahwa usaha bukan satu-satunya variabel. Bahkan ketika aku merasa telah mempersiapkan diri jauh lebih awal daripada kebanyakan orang, hasilnya tetap tidak berpihak padaku.
Lucunya, setiap kegagalan selalu datang membawa kalimat yang sama: “Mungkin memang bukan jalannya.” Kalimat itu mungkin terdengar menenangkan bagi orang yang mengucapkannya, tetapi tidak selalu bagi yang mendengarkannya. Di kepalaku, justru muncul pertanyaan lain: “Kalau bukan ini jalannya, lalu untuk apa semua usaha yang sudah kulakukan?”
Aku mulai sadar bahwa bagian paling menyakitkan dari sebuah kegagalan bukanlah rasa gagal itu sendiri, melainkan ketika kita merasa telah melakukan semua hal dengan benar, tetapi hasilnya tetap tidak sesuai harapan.
Di titik itulah aku mulai mempertanyakan hal-hal yang selama ini kupercaya. Mungkin dunia memang bukan tempat yang sepenuhnya meritokratis. Kerja keras itu penting, tetapi bukan satu-satunya faktor. Ada keberuntungan, privilese, momentum, koneksi, sistem yang kadang tidak berpihak, hingga hal-hal yang sepenuhnya berada di luar kendali kita.
Sulit sekali menerima kenyataan itu. Sejak kecil aku terbiasa berpikir bahwa hidup adalah soal sebab dan akibat: usaha menghasilkan prestasi, belajar menghasilkan nilai, dan disiplin menghasilkan kemenangan. Ternyata, setelah beranjak dewasa, rumus itu tidak selalu berlaku.
Ironisnya, semua kekecewaan itu tidak lantas membuatku berhenti berambisi. Justru sebaliknya, aku menjadi semakin keras pada diriku sendiri. Aku ingin menjadi seseorang yang tidak mudah digantikan. Aku ingin punya identitas yang kuat. Aku ingin ketika orang melihatku, mereka tahu bahwa aku adalah diriku sendiri, bukan versi kedua dari siapa pun.
Mungkin itu sebabnya aku selalu tertarik membangun personal branding yang berbeda. Ada rasa takut jika apa yang kubangun diambil orang lain, atau takut kehilangan sesuatu yang selama ini kuanggap sebagai milikku.
“Aku selalu ingin menjadi versi terbaik dari diriku.” Kalimat itu terdengar jauh lebih indah daripada kenyataannya. Di baliknya, ada kebiasaan yang diam-diam sangat melelahkan: membandingkan. Melihat orang lain berhasil, lalu tanpa sadar mengurangi nilai diriku sendiri. Melihat pencapaian orang lain, lalu bertanya dalam hati, “Kalau mereka bisa, kenapa aku belum?”
Lama-kelamaan, pertanyaannya bergeser. Bukan lagi “Kenapa aku belum berhasil?”, melainkan “Apa aku memang tidak cukup?”
Dan menurutku, itulah bentuk kegagalan yang paling berat. Bukan gagal mendapatkan sesuatu, melainkan gagal mempercayai bahwa diriku tetap berharga, bahkan ketika belum meraih apa-apa.
Sampai saat ini aku masih belajar. Masih ada hari-hari di mana aku merasa tertinggal, mempertanyakan semua usahaku, atau merasa tidak cukup berguna.
Mungkin menjadi dewasa bukanlah tentang berhenti merasa iri atau memadamkan ambisi. Mungkin menjadi dewasa adalah kemampuan untuk berkata jujur pada diri sendiri: “Hari ini aku masih merasa kalah. Tapi besok, aku akan tetap mencoba lagi.”
Aku tidak tahu apakah suatu hari nanti aku akan benar-benar berdamai dengan ambisi ini. Yang kutahu, sampai hari ini aku masih memilih untuk percaya pada kerja keras, meskipun hidup berkali-kali membuktikan bahwa kerja keras tidak selalu dibayar dengan kemenangan.
Karena pada akhirnya, mungkin kemenangan terbesar bukanlah berhasil mengalahkan orang lain, melainkan tidak membiarkan dunia yang tidak adil ini mengubah siapa kita sebenarnya.