Sebuah tamparan halus untuk siapa pun yang diam-diam masih menyesuaikan hidupnya dengan standar yang, ternyata, cuma karangan bersama.
Coba ingat-ingat template hidup yang sejak kecil sudah kita hafal di luar kepala. Kuliah di jurusan yang “jelas masa depannya.” Kerja kantoran yang stabil. Menikah di usia sebelum dua puluhan akhir. Punya rumah sendiri sebelum usia tiga puluh. Anak dua, kalau bisa laki-perempuan. Template ini begitu akrab sampai kita jarang bertanya: siapa sebenarnya yang pernah benar-benar hidup persis seperti itu?
Pada 1950, Angkatan Udara Amerika Serikat mengukur 4.063 pilot dalam 140 dimensi tubuh berbeda, dari tinggi badan sampai jarak antara mata dan telinga, untuk merancang kokpit yang pas buat “pilot rata-rata.” Setelah datanya dihitung, seorang letnan muda bernama Gilbert Daniels iseng mencocokkan angka rata-rata itu dengan data asli tiap pilot. Hasilnya mengejutkan: dari 4.063 orang, tidak satu pun yang cocok dengan ukuran rata-rata di sepuluh dimensi paling penting sekaligus. Kokpit yang dirancang untuk “manusia rata-rata” itu, pada akhirnya, dirancang untuk tidak ada siapa-siapa.
Kita mungkin tidak pernah merancang kokpit pesawat. Tapi banyak dari kita menghabiskan bertahun-tahun mencoba muat ke dalam kokpit serupa: sebuah template hidup “normal” yang, kalau ditelusuri, juga tidak pernah benar-benar pas untuk siapa pun.
“Normal” Adalah Produk Industri, Bukan Fakta Duniawi
Seth Godin, dalam buku We Are All Weird, membongkar asal-usul gagasan “normal” ini. Menurutnya, “massa” atau “orang kebanyakan” bukan fenomena alami manusia, itu produk sampingan dari era industri. Ketika pabrik hanya efisien membuat satu jenis produk, dan media hanya mampu menyiarkan satu pesan yang sama ke semua orang sekaligus, dunia usaha butuh menciptakan citra “orang normal yang menginginkan hal yang normal.”
Sekolah dilatih mencetak lulusan yang seragam. Perusahaan dihargai karena bisa melayani semua orang dengan cara yang sama. Selama kurang lebih satu abad, sistem ekonomi dan budaya kita dibangun di atas mitos ini sampai kita lupa itu mitos.
Godin berargumen, sekarang ketika pilihan makin banyak dan orang makin mudah terhubung dengan siapa pun yang sepemikiran, mitos itu perlahan runtuh. Yang tersisa hanyalah kelompok-kelompok kecil dengan definisi “normal” versi mereka sendiri, yang dari luar terlihat aneh, tapi dari dalam terasa wajar. Ia menyebut ini sebagai pertarungan yang tidak pernah selesai dalam diri manusia: ingin menonjol, tapi juga takut sendirian.
Kenapa Orang Indonesia Menanggungnya Lebih Berat ?
Kalau ketegangan ini terasa universal, ada alasan kenapa orang Indonesia menanggungnya lebih berat dari kebanyakan bangsa lain. Riset budaya Geert Hofstede menempatkan Indonesia dengan skor individualisme 14 dari 100, salah satu yang terendah di dunia. Artinya, secara struktural, masyarakat kita memang dirancang untuk mengutamakan kecocokan dengan kelompok di atas ekspresi diri sendiri. Restu keluarga besar, pendapat tetangga, dan omongan orang sekampung bukan sekadar gangguan sesekali itu bagian dari cara kita didefinisikan “berhasil” atau “gagal” sejak kecil.
Masalahnya, insting kolektif ini dulu dirancang untuk lingkup kecil: keluarga, RT/RW, satu kampung yang saling kenal wajah dan nama. Sekarang, lingkup itu meledak jauh melampaui kapasitasnya. Per Oktober 2025, ada sekitar 180 juta pengguna media sosial aktif di Indonesia, naik 26% dibanding tahun sebelumnya. Insting kolektif yang dulu hanya perlu menyenangkan puluhan orang di sekitar rumah, sekarang dipaksa bekerja lembur untuk audiens ribuan orang asing di linimasa yang bahkan tidak benar-benar mengenal kita.
Bukan kebetulan kalau riset soal budaya flexing di media sosial terus bertambah setiap tahun di kalangan akademisi Indonesia. Kebutuhan diakui secara sosial itu nyata dan lama, tapi medsos memberinya panggung yang jauh lebih besar dan lebih kejam dari yang pernah dihadapi generasi mana pun sebelumnya.
Bayangkan begini: insting menyesuaikan diri yang kita warisi itu sebenarnya alat bertahan hidup purba. Fungsinya sederhana, jangan sampai diusir dari kelompok, karena di luar kelompok, manusia purba sulit bertahan sendirian. Alat itu bekerja baik selama audiensnya kecil dan bisa diprediksi: orang tua, saudara, tetangga sebelah rumah. Masalahnya, alat purba itu sekarang dipasang ke tubuh yang menghadapi audiens berskala internet, orang asing yang jumlahnya ribuan, algoritmanya tidak pernah lelah, dan penilaiannya datang dari orang-orang yang bahkan tidak akan pernah kita temui langsung.
Kita sedang memakai kompas usang untuk menavigasi lautan yang luasnya tidak pernah dirancang untuk kompas itu.
Wujudnya, Kita Semua Kenal
Pertanyaan “kapan nikah” di meja kondangan yang terasa seperti interogasi berbalut senyum. Grup WhatsApp keluarga besar yang diam-diam jadi ajang membandingkan siapa duluan punya rumah. Julid warganet ke orang yang memilih childfree, resign tanpa pekerjaan pengganti, atau menikah “telat.” Gengsi mudik naik mobil baru meski cicilannya bikin sesak napas tiap tanggal tua.
Ada juga yang lebih halus: ikut mengiyakan rencana orang tua soal jodoh atau pekerjaan, bukan karena setuju, tapi karena menolak terasa seperti mempermalukan mereka di depan sanak famili. Atau memilih diam saat rapat kantor meski punya pendapat berbeda, karena “kan enggak enak sama atasan.” Semua itu bukan sekadar drama sosial yang lucu untuk dibahas di circle pertemanan. Itu bentuk paling nyata dari usaha kita mengejar “normal” yang, seperti kokpit pesawat tadi, sebenarnya tidak dirancang untuk siapa-siapa.
Ini Bukan Ajakan untuk Berhenti Peduli
Godin tidak sedang menyuruh kita berhenti peduli pada orang lain, dan tulisan ini juga tidak bermaksud begitu. Rasa memiliki tetap kebutuhan manusia yang sah, apalagi bagi masyarakat sekolektif kita. Yang perlu dipertanyakan bukan keinginan untuk terhubung, melainkan standar yang kita kejar demi merasa terhubung itu. Sebab kalau standar itu memang tidak pernah benar-benar nyata sejak awal, maka bertahun-tahun rasa gagal yang kita tanggung karena “belum sesuai standar” sebenarnya sedang mengejar sesuatu yang dari awal memang mustahil dikejar siapa pun.
Jadi, lain kali ketika merasa hidup kita “belum normal”, belum menikah di usia yang dianggap pas, belum mapan dengan cara yang dianggap layak, belum sukses menurut standar yang katanya berlaku umum, mungkin ini saatnya berhenti sejenak. Bukan untuk menyerah pada hidup.
Tapi untuk bertanya, dengan jujur: standar siapa yang sebenarnya sedang kita kejar mati-matian ini, dan apakah standar itu pernah benar-benar ada, atau cuma kokpit yang, dari awal, tidak dirancang untuk siapa pun, termasuk kita?