Ketika doa untuk mengakhiri hidup tak dikabulkan, Tuhan justru menghadiahkan seseorang yang mengajarkannya cara bertahan.
Ada kala ketika rentetan fajar dan senja terasa bergulir teramat melelahkan bagi sukma. Mentari terbit tanpa pernah benar-benar menyalakan benderang pagi, gulita datang tanpa sedetik pun sudi menawarkan kedamaian istirahat rasa. Sangkala terus melaju membelah ruang, tetapi Nieyth merasa denyut nadinya telah membatu sejak lama. Ia menjalani rutinitas sebagaimana insan pada umumnya — terbangun, mengayun langkah, bertutur aksara, lalu kembali menutup sepasang netra — namun esensi jiwanya tak pernah ikut serta.
Segala eksistensi mendadak kehilangan makna. Hal-hal yang dahulu sanggup membuatnya kokoh berdiri, kini menguap tawar tanpa sisa. Gema tawa terdengar begitu asing di ujung rungu, asa menjelma menjadi sebaris kalimat yang sulit digubah rupa, sementara hari esok tak lagi menjanjikan sesuatu yang pantas untuk didamba. Ia tidak memiliki gairah untuk melanjutkan perjalanan di semesta. Namun, anehnya… ia pun menolak berhasil menjemput fana.
Berkali-kali Nieyth mencoba menutup lembar riwayat yang bahkan tak lagi ingin ia baca kelanjutannya. Berkali-kali pula garis takdir menarik paksa raganya kembali, memaksanya membuka pandangan tepat ketika ia berharap segalanya telah berakhir mereda. Barangkali, keabadian belum pernah menaruh ketertarikan yang sama besarnya kepada Nieyth sepanjang usia.
Maka sejuta kali pun jemarinya mengetuk gerbang pembaringan, malaikat maut enggan melangkah untuk menyambut dan mengakhiri lara. Padahal, dialah satu-satunya entitas penolong yang paling ingin ia temui di balik gulita.
“Tuhan, Berapa lama lagi aku harus bertahan?”“Sampai kau menyadari…”
“Apa?” “Bahwa ada manusia yang kelak akan bersyukur karena Aku tidak mengabulkan doamu hari ini.”
Jagat raya rupanya teramat gemar mempermainkan jalinan ekspektasi manusia. Sebab, alih-alih dipertemukan dengan sang pembawa akhir cerita, Nieyth justru didekatkan dengan sosok suci yang menuntunnya bagaimana cara untuk kembali bersahabat dengan prahara. Utusan itu mewujud dalam rupa seorang pemuda.
Seorang laki-laki dengan sepasang pendar kecil yang melengkung teduh, menyerupai netra anak kucing yang tak pernah tahu bagaimana caranya membuat orang lain berhenti memandangnya. Surai keabu-abuan jatuh berantakan menghiasi jidat, sesekali tertiup bayu malam dan menyingkap kilau tatapan yang menyimpan keheningan langka. Kulitnya seputih salju, sementara lengkung bibirnya… ah, senyuman itu terlampau hangat untuk dimiliki oleh hamparan bumi yang dipenuhi dinginnya kecewa. Ia tidak membawa kepakan sayap megah, tidak pula lingkaran sakral di atas kepalanya. Namun entah mengapa, kehadirannya terasa jauh lebih murni daripada segala hal yang pernah Nieyth bayangkan tentang indahnya nirwana.
Sebagian manusia lahir untuk mencari bahagia.
Sebagian lainnya lahir untuk menjadi alasannya.
Sejak hari penuh mukjizat itu tiba, untuk pertama kalinya setelah sekian lama didera duka, Nieyth tidak lagi memandang embusan napas sebagai sebuah penjara. Ada seseorang yang membuat jengkelit langkah kakinya terasa sedikit lebih ringan dari sebelumnya. Ada seseorang yang diam-diam menjelma menjadi alasan tunggal mengapa ia masih bersedia menyambut sinar fajar setiap kali pagi kembali menyapa.
Rupanya, buana belum sepenuhnya kehabisan keajaiban yang nyata. Dan untuk pertama kalinya pula… Nieyth tidak lagi ingin terburu-buru melangkah menuju pintu surga. Sebab ternyata, ada satu malaikat pelindung yang lebih dulu diutus Tuhan untuk turun ke loka. Dan demi bisa tinggal sedikit lebih lama berdampingan bersamanya, Nieyth rela membiarkan sukmanya tetap utuh berpijak di dunia.
Barangkali, kasih Tuhan memang bekerja dengan cara yang sederhana.
Mengirim satu manusia, untuk menyelamatkan manusia lainnya.
Lelaki itu menyandang sebuah asma: Hoschea. Untaian aksara yang teramat sederhana, namun entah mengapa terdengar begitu asing menyapa rungu, seolah jagat raya sengaja menyimpannya rapat-rapat hingga tibanya hari ketika Nieyth benar-benar butuh pelukan jiwa.
Nieyth pernah meminta Tuhan mempercepat perjalanannya menuju surga.
Lalu Tuhan mengirim Hoschea, seolah berkata, “Tinggallah sedikit lebih lama.”
Barangkali, Tuhan memang tidak menciptakan seluruh utusan suci-Nya dengan sepasang kepakan sayap megah yang terbuka. Sebagian dari mereka justru dibekali sepasang binar pandangan yang sanggup menuntun raga lain untuk kembali menaruh percaya pada benderangnya hari raya. Dan Hoschean adalah salah satu wujud nyata dari mukjizat semesta.
Bersamanya, kedamaian bukan lagi sekadar angan fana yang terdengar mustahil dicapai oleh raga. Kedamaian kini menjelma menjadi sesuatu yang nyata untuk disentuh jemari, sesuatu yang sanggup diresapi oleh palung hati, serta sesuatu yang perlahan menetap abadi di dalam dada.
Sejak Hoschea hadir menapakkan kaki, gundah gulana seolah mendadak lupa jalan pulang menuju kediaman batin Nieyth yang penuh prahara. Resah yang dahulu tak pernah lelah mengetuk pintu sukmanya, kini berdiri ragu di ambang batas pintu, seakan tak lagi memiliki nyali dan keberanian untuk merusak suasana. Bahkan sunyi yang selama puluhan warsa begitu akrab mendekapnya, kini mulai terasa asing di antara mereka; sebab eksistensi tunggal pemuda itu diam-diam telah memenuhi setiap celah kosong yang sebelumnya gersang tanpa warna.
Hoschea tidak pernah sekali pun menuntut Nieyth untuk tetap tegap bertahan menghadapi dunia yang fana. Ia juga tidak pernah memaksa Nieyth untuk kembali mencintai detak hidupnya yang sempat cedera. Ia hanya memilih untuk hadir mendampingi dalam senyapnya.
Namun terkadang, presensi seseorang memang jauh lebih menyembuhkan dan meredam luka, ketimbang untaian seribu nasihat yang diucapkan dengan terburu-buru tanpa rasa. Dan tanpa benar-benar disadari oleh logika, Hoschea telah menjelma menjadi alasan tunggal mengapa Nieyth kembali mengeja dan memaknai setiap bergantinya masa.
“Kalau suatu hari aku pergi?”
“Aku menemanimu sampai sejauh yang aku bisa.”
“Kalau setelah itu?”
“Aku berdoa, semoga setelahku, kamu tetap memilih dunia.”
Hal itu terjadi bukan karena bumi tiba-tiba berubah wajah menjadi tempat yang lebih ramah bagi manusia. Melainkan karena kini, di atas hamparan loka yang sama, ada sesosok jiwa bernama Hoschea. Seorang manusia yang membuat Nieyth kembali percaya, bahwa hela napas ini mungkin masih teramat layak untuk dipertahankan sekuat daya. Bahwa buana masih pantas untuk dipijak sedikit lebih lama melintasi sangkala.
Dan untuk pertama kalinya sepanjang usia, ia tidak lagi menghitung seberapa cepat raga ini bisa melangkah meninggalkan dunia. Melainkan merapal doa dalam keheningan malam yang meredam lara: semoga takdir tidak terlalu cepat merenggut Hoschea dari dekapannya semata.
Jika surga adalah tempat paling damai,
Maka Hoschea adalah alasan Nieyth kini tak lagi ingin terburu-buru mencapainya.
