Punya kesibukan is okay, but losing yourself isn’t.
Kita hidup di masa ketika menjadi produktif lebih sering dipuji daripada menjadi tenang. Jadwal yang padat terasa lebih membanggakan daripada punya hari-hari yang damai. Dan lama-kelamaan, kata sibuk menjadi alasan seseorang menjauh dari segala bentuk rehat.
Seakan-akan istirahat bukan lagi kebutuhan, melainkan sesuatu yang harus ditunda. Bahkan, kadang terasa seperti sebuah kesalahan. Diam beberapa saat pun terasa seperti membuang waktu.
Apakah waktu memang hanya terasa berharga ketika kita sedang mengerjakan sesuatu?
Bukan berarti kita perlu membenci kesibukan. Toh, setiap orang sedang memperjuangkan sesuatu. Ada yang sedang membangun karier, membahagiakan keluarga, memenuhi hal-hal yang dulu belum sempat mereka miliki, dan bahkan ada yang hanya sekadar bertahan melewati hari.
Punya kesibukan is okay, but losing yourself isn’t.
Sebab, di tengah semua hal yang sedang kita kejar, ada satu hal yang sering kali diam-diam tertinggal, yaitu diri kita sendiri.
Kita terlalu fokus menyusun rencana untuk masa depan sampai lupa mengecek kabar diri hari ini. Terlalu sibuk memastikan semua pekerjaan aman dan orang lain baik-baik saja, sampai lupa bertanya apakah kita sendiri sedang baik-baik juga.
Maka dari itu, di sela-sela semua kesibukan yang dilalui, jangan lupa memberi sayang yang cukup untuk diri sendiri, ya.
Tidak harus selalu lewat liburan mahal atau healing ke mana-mana. Cukup sesederhana tidur lebih awal, makan tepat waktu, menolak pekerjaan tambahan ketika memang sudah terlalu lelah, atau menghabiskan beberapa menit tanpa merasa harus melakukan apa pun.
Karena diri kita juga butuh didengar dan beristirahat dulu, bukan hanya terus didorong untuk jadi sesuatu.
Be kind to yourself, even on your busiest days.
Gapapa kalau hari ini belum seproduktif kemarin. Gapapa kalau sesekali memilih berhenti sebentar untuk mengatur ulang tenaga. Gapapa kalau hari ini kamu memilih menjaga diri sendiri terlebih dahulu.
Sebab menjadi dewasa bukan perlombaan tentang siapa yang paling sibuk atau siapa yang paling cepat bertumbuh. Kadang, justru jedalah yang membuat kita tetap utuh di tengah semua proses itu.
Iya, you don’t have to earn your rest.
Dan mungkin, sesekali coba tanyakan lagi pada diri sendiri, am I living my life, or just staying busy?
Mungkin tidak perlu buru-buru menemukan jawabannya. Sebab barangkali yang kita butuhkan bukan solusi, melainkan kesadaran bahwa kita sudah terlalu lama menjalani hari tanpa benar-benar memperhatikan diri sendiri. Bahwa hidup bukan cuma soal mencentang satu per satu to-do list kerjaan yang terus bertambah.
Karena pada akhirnya, pertanyaan yang paling penting bukanlah seberapa sibuk kita setiap hari. Melainkan, are we becoming ourselves, or just becoming busy?
