Aku sadar bahwa yang selama ini kulatih bukan hanya kakiku, tetapi juga hatiku
Kalau ada seseorang yang mengatakan kepadaku beberapa bulan lalu bahwa aku akan berlari sejauh 19 kilometer, mungkin aku hanya akan tertawa. Bukan karena aku tidak percaya bisa melakukannya, tapi karena saat itu, bertahan melewati satu hari saja rasanya sudah cukup melelahkan
Lucunya, hidup memang sering berubah tanpa meminta izin.
Yang awalnya hanya satu kilometer untuk sekedar mengalihkan pikiran, perlahan menjadi lima. Lima berubah menjadi sepuluh. Lalu sebelas. Dan tanpa benar-benar kusadari, aku berdiri di garis start long run berikutnya dengan target yang dulu terdengar mustahil: 19 kilometer, bahkan jarak segitu jika ditambah 2 kilometer sudah setara dengan jarak long run half-marathon.
Di tengah langkah-langkah itu tadi pagi, aku sempat bertanya pada diriku sendiri, “Sejak kapan aku berubah sejauh ini?, sejak kapan aku tergila-gila menjadi orang yang menyukai lari? bahkan mau ngejar menjadi endurance runner?’’
Ternyata, aku sadari mungkin ini adalah sebuah perubahan yang memang tidak pernah datang sekaligus dalam hidupku, mengapa demikian? karena Ia datang diam-diam tanpa kusadari, lewat langkah yang terus diulang setiap pagi-malam ketika aku berlari sampai aku merasa mulai lari. Dan satu hal lagi yang kusadari dari dulu,
Perlahan belajar bahwa bertahan bukan lagi tentang siapa yang kutinggalkan, melainkan tentang siapa yang sedang kubangun.
Saat itulah aku mengerti dan memahami dengan situasiku sekarang, Aku tidak sedang mengejar angka 19 kilometer itu lagi tetapi sedang tumbuh menjadi seseorang yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya.
Endurance Runner? Memang pantas diriku disebut dengan julukanku dengan prosesku yang terbilang sedikit?
Pertanyaan itu sudah beberapa kali muncul di kepalaku akhir-akhir ini, jika dibandingkan dengan banyak pelari lain, mungkin aku masih belum sejauh itu. Masih banyak yang sudah menyelesaikan marathon, ultra marathon, atau bertahun-tahun menjadikan lari sebagai bagian dari hidup mereka. Sementara aku masih berada di awal perjalanan.
Akhirnya aku berhenti membandingkan. Untuk menjadi seorang endurance runner bukan semata-mata tentang berapa banyak medali yang dimiliki, seberapa cepat pace yang dicapai, atau seberapa sering namamu muncul di podium ataupun selalu kamu pamer lewat media sosial mu.
Bagiku, endurance dimulai dari keputusan untuk tetap melangkah ketika tubuh mulai lelah dan pikiran mulai ingin menyerah.
Bangun pagi ketika tempat tidur terasa jauh lebih nyaman,
Tetap berlatih meski hasilnya tidak selalu terlihat hari itu juga,
Serta mulai untuk melakukan pola hidup sehat secara bertahap.
Setiap langkah kecil yang dilakukan hari ini sedang membangun seseorang yang lebih kuat di masa depan, dan ketika aku melihat kembali beberapa bulan terakhir, akhirnya mulai sadar kalau diriku sekarang ini,
dari seseorang yang dulu berlari untuk melarikan diri dari rasa kehilangan, sekarang aku berlari karena benar-benar menikmati prosesnya.
Jujur, aku tidak pernah membayangkan akan menyebut diriku dengan sebutan itu. Dulu, aku hanya seseorang yang memakai lari sebagai tempat untuk mengalihkan isi kepala. Setiap langkah terasa seperti cara paling sederhana untuk melarikan diri dari pikiran yang terlalu bising. Aku tidak peduli soal pace, jarak, atau catatan waktu. Yang kuinginkan saat itu hanyalah pulang dengan hati yang sedikit lebih tenang daripada ketika aku berangkat, tapi ternyata, semakin sering aku berlari, semakin aku sadar bahwa lari tidak pernah benar-benar mengajariku cara melupakan,
Lari justru mengajariku cara menghadapi, menghadapi napas yang mulai terasa berat, menghadapi kaki yang ingin berhenti serta menghadapi suara kecil di kepala yang berkali-kali berkata, “Sudah cukup.” Dan setiap kali aku memilih melanjutkan satu kilometer lagi, aku seperti sedang memberi tahu diriku sendiri bahwa aku jauh lebih kuat daripada yang selama ini aku percaya.
Mungkin itu alasan kenapa aku jatuh cinta pada long run, Karena di dalam lari jarak jauh, tidak ada jalan pintas serta tidak ada cara instan untuk sampai di garis akhir.
Yang ada hanya kesabaran, konsistensi, dan keberanian untuk terus melangkah meski tubuh mulai meminta berhenti.
Targetku pun berubah, yang asalnya mengejar ketenangan, Sekarang aku mengejar versi terbaik dari diriku sendiri.
Mungkin belum pantas disebut pelari hebat. Tapi aku percaya, saat ini sedang di fase bertumbuh menjadi seseorang yang memiliki daya tahan bukan hanya di lintasan lari, tetapi juga dalam menjalani hidup.
Kalau ada satu hal yang diajarkan oleh 19 kilometer itu kepadaku, mungkin ini jawabannya:
Endurance bukan tentang seberapa jauh kita sudah melangkah. Endurance adalah keputusan untuk tetap melangkah, meski tahu perjalanan ini masih sangat panjang.
Mungkin itulah arti endurance yang sesungguhnya menurut pemikiran dan filosofis untuk diriku, bukan tentang menjadi pelari tercepat, melainkan menjadi seseorang yang tetap memilih melangkah, bahkan ketika perjalanan masih terasa panjang.
