Penumpang Stasiun Kroya: Suka-Duka Dan Makna Hidup
Cukup Mengejutkan ketika mendengar langsung curahan hatinya. Ternyata apa yang saya ketahui selama ini lebih dari itu. Cita rasa yang hadir menemani kami semua ternyata tidak cukup sederhana (untuk tidak mengatakan kompleks). Realita empiris memang tidak selalu berhasil memberikan makna yang utuh. Mungkin disinilah ruang bagi apa yang disebut intuisi memainkan perannya. Mencoba untuk tetap tegar dan waras melihat kembali dunia ini yang mungkin hanya bisa bersandar dan pasrah di-nina-bobokkan dengan ramuan manjur: “Jalani saja dulu, moga manfaati”.
Terlahir sebagai orang yang ditakdirkan untuk hidup dan tumbuh di lingkungan yang sarat akan makna penghormatan kiranya merupakan sebuah dualisme, seakan menjadi penurut dan pembangkang disaat yang bersamaan. Paguyuban back-uper ternyata mempunyai dominasi suara senada yang sepertinya memiliki kesiapan cukup matang — untuk tidak mengatakan mentah — dalam menyambut dunia yang mungkin sedikit berbeda.
Menimbang kembali arah untuk melangkah menjadi sebuah keharusan. Memilih untuk melangkah ke Timur, Barat, Selatan, Utara adalah pilihan mutlak bagi diri sendiri. Merdeka untuk menjadi manusia yang manusia. Merdeka bagi akal untuk menjamah semua yang ada didepan mata. Tidak membutuhkan permisi untuk berpikir tentang apapun.
Gejolak yang sedang menggerogoti perlahan jasad-jasad yang lemah ruhnya ini menjadi satu ancaman tersendiri. Berulang kali mencoba untuk melepaskan diri dari belenggu-belenggu tak kasat mata. Tumpang-tindih antara hati dan pikiran. Membangun perlahan keberanian untuk menembus batas-batas yang dikelillingi kekuatan supranatural. Terseok-seok pasca dihantam kenyataan pahit, namun terus berjalan, melangkah tanpa henti hanya untuk satu tujuan, TERLAHIR KEMBALI.