Sedari kecil, aku dididik untuk selalu mencegah, bukan merasa. Salah satu contohnya, aku selalu diingatkan untuk tidak jatuh saat aku berjalan, berlari, belajar mengendarai sepeda, hingga mengendarai sepeda motor. Pola pikirku pun mengiyakan, sehingga aku sangat jarang sekali jatuh. Tidak hanya secara fisik, tetapi pada konteks lainnya pun demikian.
Lain halnya dengan jatuh untuk mengikuti perasaan. Orang-orang memberikan banyak perspektifnya akan hal ini, karena sepertinya mereka lebih mahir dan lebih terbiasa menghadapi asam garam pada setiap perjalanan romansa. Berbeda dengan aku yang masih sulit untuk terbiasa merasa.
Pada akhirnya, aku kembali dipertemukan dengan siapa yang membuatku merasa bagaimana absurdnya menyukai dan menyayangi seseorang. Menjalani berbagai hal bersama.
Saat dekat atau jauh
Saat suka ataupun duka
Saat rindu dan kesal
dan berbagai saat yang tercatat dengan baik di kepala ini yang tidak terlalu pintar.
Pada akhirnya, semua kebersamaan itu harus selesai.
Seperti pada awalan tulisan ini, aku belum siap untuk jatuh. Jatuh ke palung paling dalam, karena harus selesai dan melihat kenyataan bahwa kata bersama tidak selalu beriringan dengan kata kekal. Aku baru merasakan begitu hebatnya sakit saat jatuh dan melihat semuanya runtuh dalam sekejap dengan mata kepala sendiri.
Jatuh dan runtuh kini menjadi kosakata teratas yang menggambarkan suasana diri. Selain itu, tidak ada yang lebih tepat untuk menggambarkan secara jelas dan jujur bagaimana aku saat menghadapi situasi ini.
Jatuh dan runtuh, akhirnya harus dirasakan dan disadari untuk mengetahui apa yang terjadi tanpa perlu dimanipulasi depan khalayak.
Ternyata, rasanya sangat tidak mengenakkan, ya?
