Bagi sang jiwa yang terlunta, bualan adalah tali yang menjerat—
mengikatnya pada keindahan palsu yang membuatnya terbuai dalam ketidaknyataan.
Ia bersandiwara, laksana aktor mahir,
menenggelamkan diri nya dalam fana yang menyilaukan.
Namun sandiwara itu retak: karena sesungguhnya bahkan ia sendiri pun tahu, bahwa mentarinya takkan selamanya singgah.
Perlahan, cahaya yang dulu hangatnya buat ia ingin terjebak selamanya dalam bualan justru berkhianat dan sadarkan nya kepada kenyataan,
sesungguhnya ia sadar—
bahwa hidupnya akan kehilangan arti bila cahayanya pergi.
Sinar sang mentari yang selimuti bentala,
menutup takdir dingin yang menghempas rasa.
Ia bukan makhluk dungu; ia mengerti,
bahwa sebagaimana semestinya, manusia pun seharusnya berputar pada porosnya—
seperti bumi yang tak pernah lalai dari garis putarnya.
Namun mereka memilih berpaling,
enggan berpaku dengan kenyataan,
menentang takdir yang sejak mula telah ditetapkan.
Sungguh,
Jika semesta gemar bergurau,
maka kisah inilah barangkali lelucon terbesarnya.
Jika bintang-bintang tertawa,
mungkin merekalah bahan tertawanya—
betapa ironis takdir mengacau mereka,
Padahal nyatanya,
Semesta-lah dalang awalnya dua insan tersebut terlebur menjadi harap fana.