Aku ingin menjadi musim gugur kesukaanmu. Agar tak lagi kau dapati kesunyian di tengah rimbunnya dedaunan pagi itu. Agar tak lagi kau rasakan angin yang berhembus; kencang menusuk kulitmu.
Aku ingin menjadi lara dalam hatimu. Agar seumur hidup — teringat engkau kepada aku. Agar seumur hidup, namaku melekat erat pada riuhnya angan yang kau genggam sampai mati sendirian.
Aku ingin menjadi nama yang tak lagi bisa kau lafalkan di tengah kebisuanmu. Agar engkau tahu, betapa sesak dan hinanya menahan rindu. Seolah tak cukup untuk sewindu, masih saja ku kenang yang lalu-lalu . Rupa-rupanya belum usai sudah duka yang ku tampik selama ini.
Seribu lima puluh hari ku habiskan dengan namamu. Menggenggam harap yang lebih abu-abu ketimbang abu itu sendiri. Menggenggam sebagianmu, kemudian ku katakan dengan lugas “pinjam keyakinanku.” yang kemudian kau balas dengan anggukan singkat.
Tak pernah sekalipun ku permainkan engkau, An. Demi Tuhan sekalipun tak pernah terlintaskan di benakku. Tiap-tiap hari yang ku lalui denganmu, ingin ku cintai engkau dengan segenap yang ku bisa, dengan selebih-lebihnya, sekurang-kurangnya dirimu. Di tiap detiknya, ingin sekali ku katakan “aku menyayangimu, An.” namun bukannya kalimat rayu tersebut yang keluar dari mulutku, aku justru melontarkan yang jauh lebih abu.
Tahukah engkau, An? Ribuan kali aku merayu Tuhan, memintamu agar tetap diiyakan denganku. Meminta agar setidaknya, sekali ini saja, setidaknya untuk sekali — ingin ku dekap tubuhmu yang rumit itu. Yang segala sudutnya sukar untuk ku pahami, yang segala rumitnya ingin sekali ku urai, agar An-ku tak perlu lagi gundah dan risau akan perasaan di benaknya. Agar An-ku, tak perlu lagi kebingungan akan hidup yang tengah ia jalani.
An yang malang …
Selalu ku doakan keberhasilan hidupmu. Aku ialah pendosa yang paling tidak tahu malu. Tetapi aku tundukkan kepalaku dalam-dalam menghadap Tuhan, meminta pengampunan untukku, untukmu, dan untuk kebaikan-kebaikan yang turut menyertai kita dala berkehidupan. Tuhan pun bersedih perihal kita, kan An? Kau pun demikian, kan An? Bukan hanya aku yang menangisi perihal kita, kan An?
Aku tidak tahu sampai kapan aku akan menyayangimu seperti ini. Entah sampai kapan akan ku cari-cari yang sepertimu. Yang cerdas cara berpikirnya, yang dapat ku habiskan waktu sepuluh jam untuk sekedar berbincang tanpa makna nyata, yang menyenangkan sepertimu tentunya. Namun sayang, An-ku hanya satu. Tak dapat ku temukan engkau di manapun, sebab An-ku yang kini bukan lagi milikku, hanya satu. Hanya satu; dan ia telah hirap Ibu …. Kekasihku yang paling ku sayangi, tak lagi datang tiap Sabtu untukku.
