2 November 2025. Selesai. Aku sudah berjuang, tapi aku harus berhenti. Tidak ada kemarahan, tidak ada penyesalan, tidak ada keinginan untuk membalas, hanya kesedihan.
Mencoba kembali mendengarkan lagu Untitled dari Rex Orange County rasanya aneh. Lagu yang dulu sering aku putar dan nyanyikan tanpa sadar, tetapi saat ini menjadi cerminan pengalaman diri sendiri. Bedanya kali ini aku adalah “she” dalam lagu itu.
Di titik ini, aku berhenti berjuang. Bukan karena tak cinta lagi, tetapi karena aku lebih memilih diriku sendiri. Aku lelah mencintai seseorang yang baru belajar menghargai cinta yang sudah aku berikan setelah aku pergi.
Cinta saja tidak cukup. Yeah, hal klise yang memang aku juga percayai. Aku pikir jika aku bertahan, segalanya akan membaik. Bahwa kehadiranku yang penuh kesadaran ini bisa saja mengubah keadaan.
Aku menenangkan, mendengarkan, menunggu, berusaha memahami tanpa diminta. Menjadi rumah yang selalu terbuka bahkan ketika aku sendiri terkadang kelelahan di dalamnya.
Namun, aku terbangun dan tersadar bahwa tidak bisa semua hal itu diselamatkan. Terkadang, hal yang kita sebut “berjuang” hanyalah bentuk lain dari menolak kenyataan bahwa kiita tidak bisa bersama. Dan aku tidak ingin kehilangan diriku lagi demi mempertahankan sesuatu yang tidak sepadan untuk dipertahankan.
Ada hal yang menyedihkan dari perpisahan ini. Bahwa dua orang bisa saling mencintai, tetapi tidak lagi cocok untuk tumbuh bersama. Mungkin memang begitu seharusnya. Kita perlu untuk menerima bahwa seseorang bisa mencintai, menyakiti, lalu belajar dari hal itu. Dan karena sudah berkali-kali, belajar melepaskan tidak sesulit itu untukku saat ini. Belajar melepaskan tanpa membenci mungkin sudah menjadi salah satu pedoman dalam kamus hidupku.
Aku memilih untuk belajar (lagi), bukan menyesal. Aku memilih untuk mengingat, tapi tidak ingin kembali. Maka hari ini, dengan penuh kesadaran, aku menulis… selamat tinggal yang terakhir.