ponsel kesayanganku
Malam itu, aku menunggu ojek yang ku pesan
Rintik hujan mulai jatuh
Turun perlahan,
menyelinap diantara keramaian malam
Mencium aspal tak rata di pasar induk
Aku pulang,
tapi tak bersamanya
Ku naiki motor si ojek
Ku selimuti tubuhku yang masih kering dengan mantel biru
Kami, biasanya memakai mantel biru ini bersama
Lelah ku rasakan disekujur kaki ku
Setelah menahan tubuhku,
berdiri tegap di padatnya busway
Biasanya, ku sandarkan kakiku di motornya
Biasanya, ia mengelus lututku juga
Menyapu kelelahan yang terasa
Ah iya, ponsel genggam
Aku lupa ponsel ku ini bisa mati kalau basah
Ku genggam erat ponselku,
dibalik mantel biruku yang agak lusuh
Biasanya, aku menyimpan ponselku di ranselnya
Rintik hujan semakin deras
Ku sembunyikan wajahku makin rapat
Ku genggam ponselku makin erat
Tunggu ponselku, kita akan sampai sebentar lagi
Gemuruh langit semakin kencang
Kilatan petir mengukir langit malam itu
Aku menundukkan kepala ku,
memejamkan mataku,
sekali lagi, mengeratkan genggaman pada ponselku
Biasanya, aku membenamkan wajahku di punggungnya
Biasanya, aku juga menggenggam tangannya bukan ponsel genggam
Tunggu sebentar lagi ya ponselku
Kesayanganku
Karena selain memori ku,
memori mu juga menyimpan tentang kami
Maaf kalau aku ternyata merepotkanmu
Aku menggenggam dan menjagamu kok
Tolong bertahan ya
